Tinggalkan komentar

PENGEMBANGAN JELUTUNG RAWA Dyera lowii

 
Laju degradasi hutan rawa gambut sepuluh tahun terakhir ini sudah sampai pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagai gambaran pada tahun 2001 total hutan rawa gambut yang masih baik hanya tinggal 10 % dari total luas hutan rawa gambut tahun 1991. Sisanya berupa semak belukar, areal terbuka dan hutan rawa gambut terfragmentasi (Boehm et al. 2003).
 
Eksploitasi hutan melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pembangunan saluran pengairan proyek PLG menyebabkan hutan rawa gambut menjadi lahan terbuka. Pembangunan Saluran Induk Primer (SIP) yang memotong kubah gambut (dome) menyebabkan terjadinya penurunan permukaan gambut (subsidence) dan lapisan gambut menjadi kering tak balik (irreversible drying) yang mempermudah terjadinya kebakaran. Selain itu, pembangunan sistem tata air akan mempercepat habisnya hutan-hutan di pedalaman oleh maraknya penebangan liar (illegal logging) yang memanfaatkan saluran untuk transportasi. 
 
Hal ini mengakibatkan beberapa species tumbuhan komersil menjadi menurunnya jumlah dan kualitas genetik seperti ramin (Gonystyllus bancanus), jelutung (Dyera pollyphylla), kempas (Koompassia malaccensis), ketiau (Ganua motleyana) dan nyatoh (Palaquium cochleria). 
Image
 
 
Pada jaman dahulu Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia diekspor ke luar negeri dalam bentuk bongkah. Negara tujuan ekspor meliputi Singapura, Jepang dan Hongkong. Getah jelutung berfungsi sebagai bahan baku pembuatan permen karet yang dimulai pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940-an getah jelutung telah menggeser posisi lateks dari pohon Achras sapota, yaitu pohon penghasil bahan baku asli permen karet yang berasal dari Amerika Tengah. Getah jelutung juga digunakan dalam industri perekat, laka, lanolic, vernis, ban, water proofing dan cat serta sebagai bahan isolator dan barang kerajinan. Akan tetapi seiring dengan kerusakan hutan rawa gambut, pohon-pohon jelutung sudah berkurang keberadaanya. 
 
Kondisi ini mengakibatkan pendapatan masyarakat menurun. Kompas (21 Agustus 2001) memberitakan sekitar 400 kepala keluarga di dua desa Sei Hanyo dan Katanjung, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah tersebut selama ini menggantungkan hidupnya dengan menyadap getah jelutung dari hutan kini resah, karena pohon-pohon jelutung yang menjadi sumber mata pencaharian mereka nyaris habis. Ketika pohon jelutung berdiameter 40 cm masih banyak ditemui, setiap minggu, mereka bisa mendapatkan hasil sekitar tiga ton getah jelutung yang harganya Rp 85.000 per kuintal atau Rp 850 per kg. Sekarang masyarakat berhenti total menyadap jelutung karena sudah habis ditebang. Kayu bulat jelutung itu, sebagian besar sudah dijual ke pabrik di Banjarmasin dengan harga kayu jelutung mencapai Rp 1,2 juta per meter kubik. 
 
Lebih lanjut lagi menurut Kompas ( 17 Desember 2005 ) warga pedalaman Kalimantan Tengah saat ini kembali meminati usaha penyadapan getah karet dan jelutung, seiring membaiknya harga komoditas tersebut. Harga getah jelutung di wilayahnya Rp 350.000 per kuintal. Selain kayunya dimanfaatkan untuk bahan bangunan, getah jelutung sebagai bahan baku permen karet. 
Image
 
Didasari semakin menurunnya potensi jelutung baik dari jumlah, maupun kualitas genetik dan berdampak pada menurunnya pendapatan masyarakat, maka diperlukan penelitian teknik budidaya dibarengi dengan pemuliaan jenis ini perlu dilakukan. Disadari, bersama bahwa informasi dan kegiatan-kegiatan penelitian terhadap jenis-jenis hutan rawa gambut ini masih sangat terbatas dan kegiatan pemuliaannya sampai saat ini belum dilakukan, maka diperlukan serangkaian kegiatan yang merupakan langkah strategi pemuliaan jenis-jenis hutan rawa gambut umumnya dan khususnya jenis jelutung.
Tinggalkan komentar

Album Religi ‘Mengaku’ UNGU terbaru

http://www.youtube.com/watch?v=c74Z-XwTslk 

http://www.youtube.com/watch?v=c74Z-XwTslk

Tinggalkan komentar

Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan

Pengelompokan Jenis Kayu Sebagai Dasar Pengenaan Iuran Kehutanan  mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 163/Kpts-II/2003 Tanggal : 26 Mei 2003.
1. Kelompok Jenis Meranti/ Kelompok Komersial Satu
2. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/ Kelompok Komersial Dua
3. Kelompok Jenis Kayu Ebony/ Kelompok Indah Satu
4. Kelompok Jenis Kayu Indah/ Kelompok Indah Dua

Image

I.  Kelompok Jenis Meranti/ Kelompok Komersial Satu

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Agathis

Dama Sulawesi, Damar Jawa, Damar Sigi Sumatera, Damar Bindang Kalimantan

Agathis spp

2.

Balau

Damar Laut, Semantok Aceh , Selangan Batu, Anggelam, Amperok

Shorea spp; Parashorea spp

3.

Balau Merah

Balau laut, Batu tuyang, Damar laut merah, Putang, Lempung abang

Shorea spp

4.

Bangkirai

Benuas, Balau mata kucing, Hulo dereh, Kerangan, Puguh, Jangkang putih

Shorea laevis Ridl; Shorea laevifolia Endert; Hopea spp; Shorea kunstleri

5.

Damar

Damar

Araucaria spp

6.

Durian

Durian burung, Lahong, Layung, Apun, Begurah, Punggai, Durian hantu, Enggang

Durio carinatus Mast; Durio spp, Coelostegia spp

7.

Gia

Delingsem, Kayu batu, Melunas, Kayu kerbau, Momala

Homalium tomentosum Roxb Benth, Homalium Foetidum Roxb Benth

8.

Giam

Resak batu, Resak gunung

CotyleloBIum spp

9.

Jelutung

Pulai nasi, Pantung gunung, Melabuai

Dyerspp

10.

Kapur

Kamper, Ky. kayatan, Empedu, Keladan

Dryobalanops spp

11.

KapurPetanang

Kapur Guras

Dryobalanops oblongifolia Dyer

12.

Kenari

Kerantai, Ki tuwak, Binjau, Asam-asam, Kedondong, Resung, Bayung, Ranggorai, Mertukul

Canarium spp, Dacryodes spp, Trioma spp, Santiria spp

13.

Keruing

Tempuran, Lagan, Merkurang, Kawang, Apitong, Tempudau

Dipterocarpus spp

14.

Kulim

Kayu bawang hutan

Scorodocarpus borneensis Becc

15.

Malapari

Malapari

Pongamia pinnata L Pierre

16.

Matoa

Kasai, Taun, Kungki, Hatobu, K. sapi Jawa, Tawan Maluku, Ihi mendek Irian Jaya

Pometia spp

17.

Medang

Sintuk, Sintok lancing, KitTeja, Ki tuha, Ki sereh, Selasihan

Cinnamomum spp

18.

Meranti Kuning

Damar tanduk, Damar buah, Damar hitam, Damar kelepek

Shorea acuminatissima Sym, Shorea balanocarpoides Sym, Shorea faguetiana Heim, Shoreascollaris V. Sloot; Shorea gibbosaBrandis

19.

Meranti Merah

Banio, Seraya merah, Kontoy bayor, Campaga, Lempong, Kumbang, Majau, Meranti ketuko, Ketrahan, Ketir, Cupang

Shorea Palembanica Miq, Shorea lepidota BI, Shorea ovalis BI, Shorea Johorensis Foxw, Shorea leptoclados Sym, Shorea leprosula Miq, Shorea patyclados sloot. Ex foxw.

20.

Meranti Putih

Baong, Baung, Kebaong, Belobungo, Bayong Sumatera, Kalimantan, Damar kaca, Damar kucing, Kikir, Udang, Udang ulang, Damar hutan, Anggelam tikus, Kontoi tembaga, Maharam potong, Damar mata kucing, Bunyau, Pongin, Awan punuk, Mehing Sumatera, Kalimantan, Damar tenang putih, Honi Maluku, Damar lari-lari, Temungku Sulawesi, Lalari, Tambia putih Sulawesi, Hili  Maluku

Shorea vrescens Parijs, Shorea retionodes V.SI, Shorea javanicaK. et. Val, Shorea bracteolataDyer, Shorea ochracea Sym,Shorea lamellata Foxw, Shorea assamica Dyer, Shorea koordesii Brandis

21.

Merawan

Ngerawan, Cengal, Amang besi, Cengal balaw, Emang, Tekam

Hopea spp; Hopea Dyeri; Hopea sangal Kort

22.

Merbau

Anglai, Ipil, Tanduk Maluku, Kayu besi Papua, Maharan Sumatera

Intsia spp

23.

Mersawa

Damar kunyit, Masegar, Ketimpun, Tabok, Tahan, Cengal padi

Anisoptera spp

24.

Nyatoh

Suntai, Balam, Jongkong, Hangkang, Katingan, Mayang batu, Bunut, Kedang, Bakalaung, Ketiau, Jengkot, Kolan

Palaquium spp; Payena spp, Madhuca spp

25.

Palapi

Mengkulang, Teraling, Dungun, Talutung, Lesi-Lesi.

Heritiera tarrietia spp

26.

Penjalin

Rempelas, Ki jeungkil, Ki endog Sunda, Cengkek Jawa, Pusu Sumbawa

Celtis spp

27.

Perupuk

Kerupuk, Pasana, Aras, Mandalaksa

Lophopetalum spp

28.

Pinang

Melunak, Ki sigeung, Kelembing, Ki sinduk

Pentace spp

29

Pulai

Kayu gabus, Rita, Gitoh, Bintau, Basung, Pule, Pulai miang

Alstonia spp

30.

Rasamala

Tulasan Sumatera, Mala Jawa, Mandung Mnkb

Altingia excelsa Noronha

31.

Resak

Damar along, Resak putih

Vatica spp

II. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/ Kelompok Komersial Dua

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Bakau

Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya

Rhizophora spp dan Bruguieraspp

2.

Bayur

Walang, Wayu, Balang, Wadang

Pterospermum spp

3.

Benuang

Benuang bini, Winuang

Octomeles sumatrana Miq

4.

Berumbung

Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal

Adina minutiflora Val; Pertusadina spp

5.

Bintangur

Bunoh, Nyamplung, Penaga

Calophyllum spp

6.

Bipa

Kayu wipa

Pterygota spp

7.

Bowoi

Rayango, Merang, Terangkuse

Serianthes minahassae Merr & Perry Syn, Albizia minahasaeKoord

8.

Bugis

Grepau

Koordersiodendron pinnatum Merr

9.

Cenge

Cenge, Cingo

Mastixia tostrata BI

10.

Duabanga

Benuang laki, Takir, Aras

Duabanga moluccana BI

11.

Ekaliptus

Ampupu Sulawesi, Aren Maluku, Leda, Tampai, Kayu putih

Eucalyptus spp

12.

Gelam

Kayu putih

Melaleuca spp

13.

Gempol

Wosen, Klepu pasir, Anggrit

Nauclea spp

14.

Gopasa

Teraut, Laban

Vitex spp

15.

Gerunggang/ Derum

Madang baro, Adat, Temau, Mampat, Butun, Kemutul

Cratoxylum spp

16.

Jabon

Kelampayan, Laran, Semama

Anthocephalus spp

17.

Jambu-jambu

Kelat, Ki tembaga, Jambu

Eugenia spp

18.

Kapas-kapasan

Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman

Exbucklandia populnea R. Brown

19.

Kayu kereta

Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah

Swintonia spp

20.

Kecapi

Papung, Kelam, Sentul

Sandoricum spp

21.

Kedondong Hutan

Coco, Kacemcem, Leuweung

Spondias spp

22.

Kelumpang

Kepuh, Kalupat, Lomes

Sterculia spp

23.

Kembang semangkok

Merpayang, Kepayang

Scaphium macropodum J. B

24.

Kempas

Impas, Tualang ayam, Hampas

Koompassia malaccensis Maing

25.

Kenanga

Kananga

Cananga sp

26.

Keranji

Kayu lilin, Maranji

Dialium spp

27.

Ketapang

Kalumpit, Jelawai, Jaha, Klumprit

Terminalia spp

28.

Ketimunan

Seranai, Temirit, Kayu reen

Timonius spp

29.

Lancat

Kundur, Modjiu, Raimagago

Mastixiodendron spp

30.

Lara

Lompopaito, Nani, Langera

Metrosideros spp dan Xanthostemon spp

31.

Mahang

Merkubung, Mara, Benua

Macaranga spp

32.

Medang

Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit

Litsea firma Hook f; Dehaasiaspp

33.

Mempisang

Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang

Mezzetia parviflora Becc; Xylopiaspp; Alphonsea spp; Kandelia candell Druce

34.

Mendarahan

Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Ky luo, Darah-darah, Huru

Myristica spp, Knema spp

35.

Menjalin

Lilin, Ki endog, Segi landak

Xanthophyllum spp

36.

Mentibu

Jongkong, Merebung

Dactylocladus stenostachys Oliv

37.

Merambung

Merambung

Vernonia arborea Han

38.

Punak

Kayu malaka, Cerega

Tetramerista glabra Miq

39.

Puspa

Sinar telu, Madang getah, Seru

Schima spp

40.

Rengas

Rengas tembaga, Rangas

Gluta aptera King Ding Hou

41.

Saninten

Sarangan, Kalimorot, Ki hiur

Castanopsis argentea A. DC

42.

Sengon

Jeungjing, Tawa kase, Sika Maluku

Paraserianthes falcataria L.Nielsen Syn

43.

Sepat

Waru gunung, Kalong

Berrya cordofolia Roxb

44.

Sesendok

Kayu bulan, Sendok-sendok, Kayu raja, Garung, Kayu labu

Endospermum spp

45.

Simpur

Sempur, Segel, Janti, Dongi

Dillenia spp

46.

Surian

Kalantas, Suren

Toona sureni Merr

47.

Tembesu

Tomasu, Kulaki, Malbira, Kitandu

Fragraea spp

48.

Tempinis

Damuli, Kayu besi

Sloetia elongata Kds

49.

Tepis

Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet

Polyalthia glauca Boerl

50.

Tenggayun

Buku ongko, Pejatai, Purut bulu

Parartocarpus spp

51.

Terap

Tara, Cempedak, Kulur, Teureup

Artocarpus spp

52.

Terentang

Tumbus, Pauh lebi

Campnosperma spp

53.

Terentangayam

Pauhan, Antumbus, Talantang

Buchanania spp

54.

Tusam

Pinus, Damar batu, Uyam

Pinus spp

55.

Utup

U t u p

Aromadendron sp

III. Kelompok Jenis Kayu Eboni/ Kelompok Indah Satu

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Eboni Bergaris

Maitong, Kayu lotong, Sora, Amara

Diospyros celeBIca Bakh

2.

Eboni Hitam

Kayu hitam, Maitem, Kayu waled

Diospyros rumphii Bakh

3.

Eboni

Baniak, Toli-toli, Kayu arang, Kanara, Gito-gito, Bengkoal, Malam

Diospyros spp D. ebenum Koen, D. ferrea Bakh, D. lolin Bakh, D. macrophylla BI, D. cauliflora BI, D. areolata King et G

IV. Kelompok Jenis Kayu Indah/ Kelompok Indah Dua

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Bongin

Pauh kijang, Sepah, Kayu batu

Irvingia malayana Oliv

2.

Bungur

Wungu, Tekuyung, Benger, Ketangi

Lagerstroemia speciosa Pers

3.

Cempaka

Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil, Capuka

Michelia spp, Elmerrillia sppDandy

4.

Cendana

Kayu kuning, Lemo daru

Santalum album L

5.

Dahu

Dao, Sengkuang, Basuong, Koili

Dracontomelon spp

6.

Johar

Juar, Trenggguli, Sebusuk, Bobondelan

Cassia spp

7.

Kuku

Kayu laut, Papus, Nani laut

Pericopsis mooniana Thw

8.

Kupang

Kayu ruan, Saga

Ormosia spp

9.

Lasi

Adina, Kilaki

Adinauclea fagifolia Ridsd

10.

Mahoni

Mahoni

Swietenia spp

11.

Melur

Sampinur tali, Jamuju, Ki merah, Cematan, Alau, Kayu embun, Kayu cina, Sandu, Sampinur bunga

Dacrydium junghuhnii Miq; Podocarpus spp; Dacrydium spp

12.

Membacang

Limus piit, Ambacang, Wani, Mempelam, Asam. Mangga

Mangifera spp

13.

Mindi

Bawang kungut

Melia spp

14.

Nyirih

Nyireh, Niri

Xylocarpus granatumJ. Konig

15.

Pasang

Mempening, Baturua, Kasunu, Triti

Quercus spp

16.

Perepat Darat

Marapat, Teruntum batu

Combretocarpus rotundatus Dans

17.

Raja Bunga

Segawe, Klenderi, Saga

Adenanthera spp

18.

Rengas

Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung

Gluta spp; Melanorrhoea spp

19.

Ramin

Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang

Gonystylus bancanus Kurz

20.

Sawokecik

Subo, Ki sawo

Manilkara spp

21.

Salimuli

Kendal, Klimasada, Purnamasada

Cordia spp

22.

Sindur

Sepetir, Sasumdur, Mobingo

Sindora spp

23.

Sonokembang

Angsana, Linggua, Nala, Candana

Pterocarpus indicus Willd

24.

Sonokeling

Linggota, Sono sungu, Sonobrits

Dalbergia latifolia Roxb

25.

Sungkai

Jati seberang, Jati londo

Peronema canescens Jack

26.

Tanjung

Sawo manuk, Karikis

Mimusops elengi L.

27.

Tapos

Kelampai, Setan, Kedui, Wayang

Elateriospermum tapos BI

28.

Tinjau Belukar

Lontar kuning

Pteleocarpus lampongus Bakh

29.

Torem

Sawai, Torem

Manikara kanosiensis H.j. L. et B. M.

30.

Trembesi

Ki hujan

Samanea saman Merr

31.

Ulin

Kayu besi, Bulian, Kokon

Eusideroxylon zwageri T.et.b.

32.

Weru

Beru, Ki hiyang, Bengkal

Albizia procera Ben

I.  Kelompok Jenis Meranti/ Kelompok Komersial Satu

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Agathis

Dama Sulawesi, Damar Jawa, Damar Sigi Sumatera, Damar Bindang Kalimantan

Agathis spp

2.

B a l a u

Damar Laut, Semantok Aceh , Selangan Batu, Anggelam, Amperok

Shorea spp; Parashorea spp

3.

Balau Merah

Balau laut, Batu tuyang, Damar laut merah, Putang, Lempung abang

Shorea spp

4.

Bangkirai

Benuas, Balau mata kucing, Hulo dereh, Kerangan, Puguh, Jangkang putih

Shorea laevis Ridl; Shorea laevifolia Endert; Hopea spp; Shorea kunstleri

5.

D a m a r

Damar

Araucaria spp

6.

Durian

Durian burung, Lahong, Layung, Apun, Begurah, Punggai, Durian hantu, Enggang

Durio carinatus Mast; Durio spp, Coelostegia spp

7.

G i a

Delingsem, Kayu batu, Melunas, Kayu kerbau, Momala

Homalium tomentosum Roxb Benth, Homalium Foetidum Roxb Benth

8.

G i a m

Resak batu, Resak gunung

CotyleloBIum spp

9.

Jelutung

Pulai nasi, Pantung gunung, Melabuai

Dyerspp

10.

K a p u r

Kamper, Ky. kayatan, Empedu, Keladan

Dryobalanops spp

11.

Kapur Petanang

Kapur Guras

Dryobalanops oblongifolia Dyer

12.

Kenari

Kerantai, Ki tuwak, Binjau, Asam-asam, Kedondong, Resung, Bayung, Ranggorai, Mertukul

Canarium spp, Dacryodes spp, Trioma spp, Santiria spp

13.

Keruing

Tempuran, Lagan, Merkurang, Kawang, Apitong, Tempudau

Dipterocarpus spp

14.

K u l i m

Kayu bawang hutan

Scorodocarpus borneensis Becc

15.

Malapari

Malapari

Pongamia pinnata L Pierre

16.

Matoa

Kasai, Taun, Kungki, Hatobu, K. sapi Jawa, Tawan Maluku, Ihi mendek Irian Jaya

Pometia spp

17.

Medang

Sintuk, Sintok lancing, KitTeja, Ki tuha, Ki sereh, Selasihan

Cinnamomum spp

18.

Meranti Kuning

Damar tanduk, Damar buah, Damar hitam, Damar kelepek

Shorea acuminatissima Sym, Shorea balanocarpoides Sym, Shorea faguetiana Heim, Shoreascollaris V. Sloot; Shorea gibbosaBrandis

19.

Meranti Merah

Banio, Seraya merah, Kontoy bayor, Campaga, Lempong, Kumbang, Majau, Meranti ketuko, Ketrahan, Ketir, Cupang

Shorea Palembanica Miq, Shorea lepidota BI, Shorea ovalis BI, Shorea Johorensis Foxw, Shorea leptoclados Sym, Shorea leprosula Miq, Shorea patyclados sloot. Ex foxw.

20.

Meranti Putih

Baong, Baung, Kebaong, Belobungo, Bayong Sumatera, Kalimantan, Damar kaca, Damar kucing, Kikir, Udang, Udang ulang, Damar hutan, Anggelam tikus, Kontoi tembaga, Maharam potong, Damar mata kucing, Bunyau, Pongin, Awan punuk, Mehing Sumatera, Kalimantan, Damar tenang putih, Honi Maluku, Damar lari-lari, Temungku Sulawesi, Lalari, Tambia putih Sulawesi, Hili  Maluku

Shorea vrescens Parijs, Shorea retionodes V.SI, Shorea javanicaK. et. Val, Shorea bracteolataDyer, Shorea ochracea Sym,Shorea lamellata Foxw, Shorea assamica Dyer, Shorea koordesii Brandis

21.

Merawan

Ngerawan, Cengal, Amang besi, Cengal balaw, Emang, Tekam

Hopea spp; Hopea Dyeri; Hopea sangal Kort

22.

Merbau

Anglai, Ipil, Tanduk Maluku, Kayu besi Papua, Maharan Sumatera

Intsia spp

23.

Mersawa

Damar kunyit, Masegar, Ketimpun, Tabok, Tahan, Cengal padi

Anisoptera spp

24.

Nyatoh

Suntai, Balam, Jongkong, Hangkang, Katingan, Mayang batu, Bunut, Kedang, Bakalaung, Ketiau, Jengkot, Kolan

Palaquium spp; Payena spp, Madhuca spp

25.

Palapi

Mengkulang, Teraling, Dungun, Talutung, Lesi-Lesi.

Heritiera tarrietia spp

26.

Penjalin

Rempelas, Ki jeungkil, Ki endog Sunda, Cengkek Jawa, Pusu Sumbawa

Celtis spp

27.

Perupuk

Kerupuk, Pasana, Aras, Mandalaksa

Lophopetalum spp

28.

Pinang

Melunak, Ki sigeung, Kelembing, Ki sinduk

Pentace spp

29

P u l a i

Kayu gabus, Rita, Gitoh, Bintau, Basung, Pule, Pulai miang

Alstonia spp

30.

Rasamala

Tulasan Sumatera, Mala Jawa, Mandung Mnkb

Altingia excelsa Noronha

31.

R e s a k

Damar along, Resak putih

Vatica spp

II. Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran/ Kelompok Komersial Dua

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

B a k a u

Tumu, Lenggadai, Jangkar, Tanjang, Putut, Busing, Mata buaya

Rhizophora spp dan Bruguieraspp

2.

B a y u r

Walang, Wayu, Balang, Wadang

Pterospermum spp

3.

Benuang

Benuang bini, Winuang

Octomeles sumatrana Miq

4.

Berumbung

Kayu lobang, Barumbung, Kayu gatal

Adina minutiflora Val; Pertusadina spp

5.

Bintangur

Bunoh, Nyamplung, Penaga

Calophyllum spp

6.

B i p a

Kayu wipa

Pterygota spp

7.

B o w o i

Rayango, Merang, Terangkuse

Serianthes minahassae Merr & Perry Syn, Albizia minahasaeKoord

8.

B u g i s

Grepau

Koordersiodendron pinnatum Merr

9.

Cenge

Cenge, Cingo

Mastixia tostrata BI

10.

Duabanga

Benuang laki, Takir, Aras

Duabanga moluccana BI

11.

Ekaliptus

Ampupu Sulawesi, Aren Maluku, Leda, Tampai, Kayu putih

Eucalyptus spp

12.

G e l a m

Kayu putih

Melaleuca spp

13.

Gempol

Wosen, Klepu pasir, Anggrit

Nauclea spp

14.

Gopasa

Teraut, Laban

Vitex spp

15.

Gerunggang/ Derum

Madang baro, Adat, Temau, Mampat, Butun, Kemutul

Cratoxylum spp

16.

J a b o n

Kelampayan, Laran, Semama

Anthocephalus spp

17.

Jambu-jambu

Kelat, Ki tembaga, Jambu

Eugenia spp

18.

Kapas-kapasan

Hapas-hapas, Tapa-tapa, Leman

Exbucklandia populnea R. Brown

19.

Kayu kereta

Rengas sumpung, Merpauh, Bagel mirah

Swintonia spp

20.

Kecapi

Papung, Kelam, Sentul

Sandoricum spp

21.

Kedondong Hutan

Coco, Kacemcem, Leuweung

Spondias spp

22.

Kelumpang

Kepuh, Kalupat, Lomes

Sterculia spp

23.

Kembang semangkok

Merpayang, Kepayang

Scaphium macropodum J. B

24.

Kempas

Impas, Tualang ayam, Hampas

Koompassia malaccensis Maing

25.

Kenanga

Kananga

Cananga sp

26.

Keranji

Kayu lilin, Maranji

Dialium spp

27.

Ketapang

Kalumpit, Jelawai, Jaha, Klumprit

Terminalia spp

28.

Ketimunan

Seranai, Temirit, Kayu reen

Timonius spp

29.

Lancat

Kundur, Modjiu, Raimagago

Mastixiodendron spp

30.

L a r a

Lompopaito, Nani, Langera

Metrosideros spp dan Xanthostemon spp

31.

Mahang

Merkubung, Mara, Benua

Macaranga spp

32.

Medang

Manggah, Huru kacang, Keleban, Wuru, Kunyit

Litsea firma Hook f; Dehaasiaspp

33.

Mempisang

Mahabai, Hakai rawang, Empunyit, Jangkang, Banitan, Pisang-pisang

Mezzetia parviflora Becc; Xylopiaspp; Alphonsea spp; Kandelia candell Druce

34.

Mendarahan

Tangkalak, Au-au, Ki mokla, Kumpang, Ky luo, Darah-darah, Huru

Myristica spp, Knema spp

35.

Menjalin

Lilin, Ki endog, Segi landak

Xanthophyllum spp

36.

Mentibu

Jongkong, Merebung

Dactylocladus stenostachys Oliv

37.

Merambung

Merambung

Vernonia arborea Han

38.

P u n a k

Kayu malaka, Cerega

Tetramerista glabra Miq

39.

P u s p a

Sinar telu, Madang getah, Seru

Schima spp

40.

Rengas

Rengas tembaga, Rangas

Gluta aptera King Ding Hou

41.

Saninten

Sarangan, Kalimorot, Ki hiur

Castanopsis argentea A. DC

42.

Sengon

Jeungjing, Tawa kase, Sika Maluku

Paraserianthes falcataria L.Nielsen Syn

43.

S e p a t

Waru gunung, Kalong

Berrya cordofolia Roxb

44.

Sesendok

Kayu bulan, Sendok-sendok, Kayu raja, Garung, Kayu labu

Endospermum spp

45.

Simpur

Sempur, Segel, Janti, Dongi

Dillenia spp

46.

Surian

Kalantas, Suren

Toona sureni Merr

47.

Tembesu

Tomasu, Kulaki, Malbira, Kitandu

Fragraea spp

48.

Tempinis

Damuli, Kayu besi

Sloetia elongata Kds

49.

T e p i s

Banitan, Pemelesian, Kayu tinyang, Kayu bulan, Banet, Kayu kalet

Polyalthia glauca Boerl

50.

Tenggayun

Buku ongko, Pejatai, Purut bulu

Parartocarpus spp

51.

T e r a p

Tara, Cempedak, Kulur, Teureup

Artocarpus spp

52.

Terentang

Tumbus, Pauh lebi

Campnosperma spp

53.

Terentang ayam

Pauhan, Antumbus, Talantang

Buchanania spp

54.

T u s a m

Pinus, Damar batu, Uyam

Pinus spp

55.

U t u p

U t u p

Aromadendron sp

III. Kelompok Jenis Kayu Eboni/ Kelompok Indah Satu

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Eboni Bergaris

Maitong, Kayu lotong, Sora, Amara

Diospyros celeBIca Bakh

2.

Eboni Hitam

Kayu hitam, Maitem, Kayu waled

Diospyros rumphii Bakh

3.

E b o n i

Baniak, Toli-toli, Kayu arang, Kanara, Gito-gito, Bengkoal, Malam

Diospyros spp D. ebenum Koen, D. ferrea Bakh, D. lolin Bakh, D. macrophylla BI, D. cauliflora BI, D. areolata King et G

IV. Kelompok Jenis Kayu Indah/ Kelompok Indah Dua

No.

Nama Perdagangan

Nama Daerah

Nama Ilmiah

1.

Bongin

Pauh kijang, Sepah, Kayu batu

Irvingia malayana Oliv

2.

Bungur

Wungu, Tekuyung, Benger, Ketangi

Lagerstroemia speciosa Pers

3.

Cempaka

Minjaran, Wasian, Manglid, Sitekwok, Kantil, Capuka

Michelia spp, Elmerrillia sppDandy

4.

Cendana

Kayu kuning, Lemo daru

Santalum album L

5.

D a h u

Dao, Sengkuang, Basuong, Koili

Dracontomelon spp

6.

J o h a r

Juar, Trenggguli, Sebusuk, Bobondelan

Cassia spp

7.

K u k u

Kayu laut, Papus, Nani laut

Pericopsis mooniana Thw

8.

Kupang

Kayu ruan, Saga

Ormosia spp

9.

L a s i

Adina, Kilaki

Adinauclea fagifolia Ridsd

10.

Mahoni

Mahoni

Swietenia spp

11.

M e l u r

Sampinur tali, Jamuju, Ki merah, Cematan, Alau, Kayu embun, Kayu cina, Sandu, Sampinur bunga

Dacrydium junghuhnii Miq; Podocarpus spp; Dacrydium spp

12.

Membacang

Limus piit, Ambacang, Wani, Mempelam, Asam. Mangga

Mangifera spp

13.

M i n d i

Bawang kungut

Melia spp

14.

Nyirih

Nyireh, Niri

Xylocarpus granatumJ. Konig

15.

Pasang

Mempening, Baturua, Kasunu, Triti

Quercus spp

16.

Perepat Darat

Marapat, Teruntum batu

Combretocarpus rotundatus Dans

17.

Raja Bunga

Segawe, Klenderi, Saga

Adenanthera spp

18.

Rengas

Ingas, Suloh, Rangas, Rengas burung

Gluta spp; Melanorrhoea spp

19.

R a m i n

Gaharu buaya, Medang keladi, Keladi, Miang

Gonystylus bancanus Kurz

20.

Sawo kecik

Subo, Ki sawo

Manilkara spp

21.

Salimuli

Kendal, Klimasada, Purnamasada

Cordia spp

22.

Sindur

Sepetir, Sasumdur, Mobingo

Sindora spp

23.

Sonokembang

Angsana, Linggua, Nala, Candana

Pterocarpus indicus Willd

24.

Sonokeling

Linggota, Sono sungu, Sonobrits

Dalbergia latifolia Roxb

25.

Sungkai

Jati seberang, Jati londo

Peronema canescens Jack

26.

Tanjung

Sawo manuk, Karikis

Mimusops elengi L.

27.

T a p  o s

Kelampai, Setan, Kedui, Wayang

Elateriospermum tapos BI

28.

Tinjau Belukar

Lontar kuning

Pteleocarpus lampongus Bakh

29.

T o r e m

Sawai, Torem

Manikara kanosiensis H.j. L. et B. M.

30.

Trembesi

Ki hujan

Samanea saman Merr

31.

U l i n

Kayu besi, Bulian, Kokon

Eusideroxylon zwageri T.et.b.

32.

W e r u

Beru, Ki hiyang, Bengkal

Albizia procera Ben

Tinggalkan komentar

Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) Terbaru

Pembayaran PSDH dilakukan  didasarkan pada Laporan Hasil Produksi (LHP) yang telah disahkan oleh P2LHP. Wajib bayar PSDH harus menyerahkan salinan LHP kepada pejabat penagih PSDH, paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak LHP disahkan.

Tagihan PSDH berbentuk Surat Perintah Pembayaran PSDH (SPP PSDH) yang dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap, dengan peruntukan:
1. Lembar pertama untuk wajib bayar
2. Lembar kedua untuk Kepala Dinas Kabupaten/Kota
3. Lembar ketiga untuk Kepala Dinas Provinsi
4. Lembar keempat untuk Kepala UPT Ditjen BUK (BPPHP)
5. Lembar kelima untuk arsip pejabat penagih

SPP PSDH harus dibayar kepada kas negara melalui rekening Bendaharawan Penerima (untuk saat ini di Bank Mandiri) selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja sejak SPP PSDH diterbitkan.

Rumus perhitungan PSDH sebagai berikut:

Nilai PSDH = Tarif x Harga Patokan x Volume Pada LHP

Tarif mengikuti PP. 12 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA KEMENTERIAN KEHUTANAN

Harga Patokan yang sebelumnya mengikuti Permendag sekarang ditetapkan oleh Menteri kehutanan.

Volume berdasarkan yang tertera pada LHP.

 

 

Tinggalkan komentar

TANAH ALFISOL

TANAH ALFISOL 
Yaitu tanah-tanah yang menyebar di daerah-daerah semiarid (beriklim kering sedang) sampai daerah tropis (lembap).Tanah ini terbentuk dari proses-proses pelapukan, serta telah mengalami pencucian mineral liat dan unsur-unsur lainnya dari bagian lapisan permukaan ke bagian subsoilnya (lapisan tanah bagian bawah), yang merupakan bagian yang menyuplai air dan unsur hara untuk tanaman. Tanah ini cukup produktif untuk pengembangan berbagai komoditas tanaman pertanian mulai tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Tingkat kesuburannya (secara kimiawi) tergolong baik. pH-nya rata-rata mendekati netral. Di seluruh dunia diperkirakan Alfisol penyebarannya meliputi 10% daratan. 

Pada tanah Alfisol memilki kandungan P dan K sangat tergantung dengan umur dan macam tuff. Tanah-tanah yang berkembang dari batuan kapur tidak memperlihatkan bercak-bercak besi dan mangan, tekstur dengan bercak-bercak gloy, pH dan kejenuhan basa yang tingi serta kandungan P dan K yang rendah. Biasanya pada tanah Alfisol terdapat konkresi di bawah pada bajak dan mempunyai liat pada pod surfaces (Hakim, dkk, 1986). 

Bentuk dan sifat pergerakan serta redistribusi fosfor telah menjadi bahan pada banyak penelitian dalam Alfisol dan tanah-tanah lainnya. Hal ini utamanya diakibatkan oleh peranan fosfor dalam hara tanaman. Translokasi fosfor dalam Albaqualfs dan menemukan adanya penimbunan P dari tanah-tanah sekitarnya yang tergolong Aquoll. Dengan meningkatnya perkembangan profil kalsium-P berkurang dalam profil yang terlapuk sementara Fe-P meningkat. Horison-horison dengan liat maksimum umumnya mengandung total P yang minimal yang menunjukkan bahwa liat tidak efektif dalam mengikat P (Lopulisa, 2004). 

Jenis tanah Alfisol memiliki lapisan solum tanah yang cukup tebal yaitu antara 90-200 cm, tetapi batas antara horizon tidak begitu jelas. Warna tanah adalah coklat sampai merah. Tekstur agak bervariasi dari lempung sampai liat, dengan struktur gumpal bersusut. Kandungan unsure hara tanaman seperti N, P, K dan Ca umumnya rendah dan reaksi tanahnya (pH) sangat tinggi (Sarief, 1985). 
Kapasitas Tukar Kation tanah adalah jumlah muatan negatif tanah baik yang bersumber dari permukaan koloid anorganik (liat) muatan koloid organik (humus) yang merupakan situs pertukaran kation-kation. Baha organik tanah Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, H+, Al3+ dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut dalam air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam miliekuivalen) yang dapat diserap oleh tanah persatuan berat tanah (biasanya per 100 gram) dinamakan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti oleh kation lain yang terdapat di dalam larutan tanah (Foth, 1991). 

Kapasitas tukar kation menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kation-kation tersebut. Kapasitas tukar kation penting untuk kesuburan tanah maupun untuk genesis tanah. Beberapa pengukuran KTK tanah telah dilaksanakan dengan hasil yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena o KTK bervariasi sesuai dengan pH. Oleh karena itu dalam menentukan KTK di laboratorium harus dijelaskan pada pH berapa KTK tersebut ditentukan. Beberapa tanah menunjukkan KTK rendah pada pH lapang (pH rendah) tetapi tinggi pada pH tinggi, misalnya pada pH 8,2. Hal ini disebabkan karena perbedaan daya reaksi kation-kation dengan koloid tanah yang ada apakah kolid-koloid tersebut berupa mineral liat kristalin, hidroksida, senyawa amorf atau bahan organic. Penentuan KTK pada pH 7 banyak dilakukan. o Hasil analisis KTK dapat berbeda karena kation yang dipergunakan untuk mengganti kation-kation dalam koloid tanah (bahan pengekstrak) berbeda (Hardjowigeno, 1985). 

Tanah Alfisol Menyangkut Kesuburan Tanah 
Tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di horison B (Horison argilik) dibedakan menjadi Afisol (pelapukan belum lanjut) dan Ultisol (pelapukan lanjut). Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama di tempat-tempa dengan tingkat pelapukan sedang (Hardjowigeno, 1993). 
Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit. Proses pembentukan Alfisol di Iowa memerlukan waktu 5000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik. Alfisol terbentuk di bawah tegakan hutan berdaun lebar (Hardjowigeno, 1993). 

Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari pleistosin. Di daerah dingin hampir semuanya berasal dari bahan induk berkapur yang masih muda. Di daerah basah bahan induk biasanya lebih tua daripada di daerah dingin (Munir, 1984). 

Alfisol merupakan tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak, atau hutan. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation tinggi, cadangan unsur hara tinggi (Hardjowigeno, 1993). 

Tinggalkan komentar

TANAH HISTOSOL

Merupakan tanah yang mengandung bahan organik tinggi dan tidak mengalami permafrost. Kebanyakan selalu dalam keadaan tergenang sepanjang tahun, atau telah didrainase oleh manusia. Histosol biasa disebut sebagai gambut. Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, sampah hutan, atau lumut yang cepat membusuk yang terdekomposisi dan terendapkan dalam air. Penggunaan Histosol paling ekstensif adalah sebagai lahan pertanian, terutama untuk tanaman sayur-sayuran seperti buncis, kacang panjang, bayam, dan lain-lain. Histosol menyusun sekitar 1% dari daratan dunia. 
Histosol (tanah organic) asal bahasa yunani histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organic dan gambut. 
Histosol mempunyai kadar bahan organic sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air. 

Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence). 
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut. 
Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah. 
Secara umum definisi tanah gambut adalah: 
“Tanah yang jenuh air dan tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan ).” 
Penyebaran tanah gambut biasanya mengikuti pola landform yang terbentuk diantara dua sungai besar, diantaranya berupa dataran rawa pasang surut dan dataran gambut (dome). Landform tersebut terletak dibelakang tanggul sungai (leeve). Tanah gambut yang menyebar langsung di belakang tanggul sungai dan dipengaruhi oleh luapan air sungai disebut gambut topogen, sedangkan yang terletak jauh di pedalaman dan hanya dipengaruhi oleh air hujan biasa disebut gambut ombrogen. c. Proses Pembentukan Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk (Chotimah, 2002). Gambut terbentuk dari seresah organik yang terdekomposisi secara anaerobik dimana laju penambahan bahan organik lebih tinggi daripada laju dekomposisinya. Di dataran rendah dan daerah pantai, mula-mula terbentuk gambut topogen karena kondisi anaerobik yang dipertahankan oleh tinggi permukaan air sungai, tetapi kemudian penumpukan seresah tanaman yang semakin bertambah menghasilkan pembentukan hamparan gambut ombrogen yang berbentuk kubah (dome). Gambut ombrogen di Indonesia terbentuk dari seresah vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun, sehingga status keharaannya rendah dan mempunyai kandungan kayu yang tinggi (Radjagukguk, 1990). d. Karakteristik Gambut 
Analisis laboratorium bahan organik dinyatakan dalam kadar karbon 12-18% atau lebih. Makin tinggi kadar karbon, bahan organik dapat dikatakan masih segar, sedangkan makin kecil kadar karbon maka bahan organik makin lanjut pelapukannya dan disebut dengan humus (Rismunandar, 2001). Tanah gambut di Indonesia pada umunya mempunyai reaksi kemasaman tanah (pH) yang rendah, yaitu antara 3,0 – 5,0 (Hardjowigeno, 1996). Hasil analisis di berbagai wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya, memperlihatkan bahwa Histosols menunjukkan reaksi tanah masam ekstrim (pH 3,5 atau kurang) sampai sangat masam sekali (pH 3,6 – 4,5). Kandungan bahan organik di seluruh lapisan, sangat tinggi ( 6 – 91 %) dan kandungan nitrogen di seluruh lapisan gambut, sebagian besar, juga sangat tinggi (>75 %), rasio C/N tergolong tinggi sampai sangat tinggi (16 – 69), yang berarti walaupun kandungan N tinggi, tetapi dalam bentuk tidak tersedia bagi tanaman. Kandungan P dan K-potensial lapisan atas (0 -50 cm) sedang sampai tinggi, lebih baik dari pada lapisan bawah yang umumnya rendah. Pada gambut dangkal dan gambur eutrofik kandungan potensial kedua unsur tersebut termasuk sedang sampai tinggi. Kriteria kadar abu dari Fliescher in Widjaja-Adhi (1986) yang menyatakan bahwa gambut eutropik, mesotropik, dan oligotropik mempunyai kadar abu masing-masing sekitar 10,5 dan 2 %. Jumlah basa-basa dapat tukar (Ca, Mg, K, dan Na) sebagian besar tergolong sangat rendah sampai rendah. KTK tanah karena kandungan bahan organik tinggi, semuanya menunjukkan nilai sangat tinggi (60 – 350 Cmol(+)kg-1 tanah. Namun sebaliknya, KB-nya semuanya 
termasuk sangat rendah (1-5%). Dengan demikian, disimpulkan bahwa potensi kesuburan alami tanah gambut adalah sangat rendah sampai rendah. Tanah gambut memiliki berat isi yang rendah berkisar antara 0,05 – 0,25 gcm-3, semakin lemah tingkat dekomposisinya semakin rendah berat isi (BD), sehingga daya topang terhadap bebadan diatasnya seperpti tanmana, banguanan irigasi, jalan, dan mesin-mesin pertanian adalah rendah. Gambut yang sudah direklamasi akan lebih padat dengan berat isi antara 0,1 – 0,4 gcm-3 (Subagyono et al., 1997). Porositas tanah tinggi, penyusutan volume tanah gambut (irreversible) sehingga mudah terbakar, dan apabila tergenang akan mengembang dan hanyut terbawa arus. Menurut Subagjo (2002), tanah gambut mempunyai pori-pori dan kapiler yang tinggi, sehingga mempunyai daya menahan air yang sangat besar. Dalam keadaan jenuh kandungan air tanah gambut dapat mencapai 4,50-30 kali bobot keringnya. Pada kondisi gambut pada musim kemarau, tanah gambut masih tetap lembab dengan kadar air tinggi. Kondisi tersebut merupakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, pengambilan sampel pada kondisi lembab akan lebih mendekati keadaan di lapangan. Sifat fisik juga sangat berkaitan dengan aspek teknik pembangunan rumah, pembuatan dan pemeliharaan jalan, serta pembuatan saluran drainase dan irigasi (Widjaja, 1984). Kualitas tanah gambut sangat bergantung pada vegetasi yang menghasilkan bahan organik pembentuk tanah gambut, bahan mineral yang berada dibawahnya, faktor lingkungan tempat terbentuknya tanah gambut dan proses pembentukan tanahnya. 
Tanpa memandang tingkat dekomposisinya, gambut dikelaskan sesuai dengan bahan induknya menjadi tiga (Buckman dan Brady, 1982) yaitu : 
 Gambut endapan; Gambut endapan biasanya tertimbun di dalam air yang relatif dalam. Karena itu umumnya terdapat jelas di profil bagian bawah. Meskipun demikian, kadang-kadang tercampur dengan tipe gambut lainnya jika lebih dekat dengan permukaan. Gambut ini berciri kompak dan kenyal serta bewarna hijau tua jika masih dalam keadaan aslinya. Kalau kering gambut ini menyerap air sangat lambat dan bertahan tetap dalam keadaan sangat keras dan bergumpal. Gambut ini tidak dikehendaki, karena sifat fisiknya yang tidak cocok untuk pertumbuhan tanaman. 
 Gambut berserat; Gambut ini mempunyai kemampuan mengikat air tinggi dan dapat menunjukan berbagai derajat dekomposisi. Gambut berserat mungkin terdapat dipermukaan timbunan bahan organik yang belum terdekomposisi, sebagian atau seluruhnya terdapat dalam profil bawah, biasanya terlihat di atas endapan. 
 Gambut kayuan; Gambut kayuan biasanya terdapat dipermukaan timbunan organik. Gambut ini bewarna coklat atau hitam jika basah, sesuai dengan sifat humifikasinya. Kemampuan mengikat air rendah, oleh karena itu gambut kayuan kurang sesuai digunakan untuk persemaian. 
Menurut Darmawijaya (180) berdasarkan faktor pembentukannya, gambut digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu : 
 Gambut ombrogen; Gambut ombrogen terbentuk karena pengaruh curah hujan yang tinggi, dengan air yang tergenang, tanpa perbedaan musim yang mencolok dan pada daerah tropika yang lebat dengan curah hujan lebih dari 3000 mm tiap tahun. Bersifat sangat masam dengan pH 3,0 – 4,5. 
 Gambut topogen; Gambut topogen terbentuk karena pengaruh topografi, berasal dari tanaman paku-pakuan dan semak belukar dan mempunyai pH yang relatif tinggi. 
 Gambut pegunungan; Gambut ini terbentuk karena ketinggian tempat gambut, di daerah katulistiwa hanya terbentuk di daerah pegunungan dan iklimnya menyerupai iklim di daerh sedang dengan vegetasi utamanya Sphagnum. 
Bahan organik pada tanah gambut dibedakan atas tiga macam (Rosmarkam et al., 1988) yaitu : 
o Fibric yang tingkat dekomposisinya masih rendah, sehingga masih banyak mengandung serabut, berat jenis sangat rendah (kurang dari 0,1), kadar air banyak, berwarna kuning sampai pucat. 
o Hemic merupakan peralihan dengan tingkat dekomposisi sedang, masih banyak mengandung serabut, berat jenis antara 0,07 – 0,18, kadar air banyak, berwarna coklat muda sampai coklat tua. 
o Sapric yang dekomposisinya paling lanjut, kurang mengandung serabut, berat jenis 0,2 atau lebih, kadar air tidak terlalu banyak dengan warna hitam dan coklat kelam. 
Tanah gambut di Indonesia sangat bervariasi tingkat kesuburannya. Gambut pantai umumnya merupakan gambut topogenous atau mesogenous, sebagian besar tergolong kedalam eutropik atau mesogenous, karena memperoleh tambahan unsur lain dari luar yaitu yang dibawa air pasang. Sedangkan gambut pedalaman pada umumnya merupakan gambut ombrogenous atau mesogenous yang termasuk kedalam oligotropik (Polak, 1975). 

Tinggalkan komentar

KELAS API BERDASARKAN BAHAN PEMADAMAN

KELAS “A”   Api kayu – Api kertas – Api Sampah – Api kain Air & Debu kering 
KELAS “B”   Api Minyak – Api Cat – Api Varnish Buih, Debu kering dan Varpourising liquid 
KELAS “C”   Butana – Propane – Oxy acetalane – Gas  Debu kering,CO2 Varpourising liquid 
KELAS “D”  Api Logam –   Potaosium – Sodium – Kalsium – Magnesium Soda Ash, Pasir, Debu Kering & Matel serta Powder Api Elektrik Kebakaran ini tidak termasuk dalam kelaas-kelas api dan boleh dipadam dengan menggunakan alat pemadam api yang sesuai

ALAT PEMADAM API JENIS AIR
Kandungan Air Biasa – 9 Liter Jarak Pancutan 20’ – 25’ Jangkamasa Pancutan 60 – 120 
KEBAIKAN KEBURUKAN – Mudah dikendalikan – Boleh mengawal/memadam apai di peringkat awal – Cecair yang digunakan tidak merbahaya – Hanya sekali digunakan – Tidak sesuai memadam kebakaran alat elektrik dan logam – Tidak boleh diletakkan ditempat yang suhunya sejuk dan boleh membeku – Tidak boleh mengawal dan memadam kebakaran yang besar

ALAT PEMADAM API JENIS DEBU KERING (DRY POWDER) 
Kandungan – Sodium bikarbonat 97% – Magnesium stearote 11/2% – Magnesium karbonat 1% – Trikalsium karbonat ½% Jarak Pancutan 15’ – 20’ Jangkamasa Pancutan 2 Minit 
KEBAIKAN KEBURUKAN – Mudah dan gampang dikendalikan – dapat memadamkan api kelas A,B,C dan sungguh efektif – Pemadamannya lebih efektif   jika dibandingkan dengan alat pemadam api jenis Co2 dan BCF – semprotan di Release Handle. – Hanya boleh sekali saja. – Debunya mendatangkan kerusakan pada bahan-bahan tertentu seperti mesin mobil, bahan makanan dll – Tidak boleh memadam api logam – Tidak boleh diletakkan ditempat yang suhunya sejuk dan boleh membeku Perhatian Penempatan alat-alat pemadaman api hendaklah diletakkan pada tempat yang boleh dilihat dan digantung supaya alat ini tidak rusak pada tabung dan juga isi kandungannya Pemeriksaan 1. Hendaklah diperiksa setiap bulan 2. Pastikan preasure guage pada tabung menunjukan kandungan penuh (hijau – penuh & merah – kosong). Sekiranya terjadi kekurangan tekanan udara hendaklah tabung diservis.

ALAT PEMADAM API JENIS GAS (Co2 & BCF) 
Kandungan – dalam tabung diisi dengan Co2 dalam bentuk cair dalam tekanan. – Mempunyai ukuran antara 2 hingga 5 ibs beratnya. Jarak tembak 8’ ke 12’ dan perkembangan nisbahnya ialah 1:450 Jangka waktu semprot 8 hingga ke 30 
KEBAIKAN KEBURUKAN – Mudah dikendalikan – dapat memadamkan kebakaran ditingkat awal dan efektif – Gasnya bersih tidak membantu kebakaran – Gasnya tidak mengalirkan elektrik – dapat menembus tempat-tempat permukaan kecil – Hanya sekali digunakan – Keberatan silindernya tidak sepadan dengan kandungan gas, berat 5.3 kg tetapi Cuma 2.2 kg sahaja. – Kandungan gas tidak dapat dilihat dan perlu ditimbang dari waktu kewaktu  untuk menghindari kekurangan daripada 10% – Tidak efektif memadam kebakaran api jenis A,B &D tidak dianjurkan pada kebakaran yang sudah besar.

ALAT PEMADAM API JENIS BUSA (Foam) 
Sesuai untuk memadam api kelas ‘B’ dan peranannya menyelimut dan menurunkan suhu dibawah suhu nyalaan (menyejukkan). Kandungan – Terdapat 2 tabung – Tabung dalam (Alauminium Sulphate) – Tabung luar (Sodium Bikarbonate / Stabilizer) Jarak Pancutan Lebih kurang 20’ Jangkamasa Pancutan 30 hingga ke 90
KEBAIKAN KEBURUKAN – Mudah dikendalikan – Foam dapat menutup permukaan cair dan menghambat oksigen yang dapat memicu kebakaran – Tidak terganggu daripada tiupan angin – dapat memadamkan kebakaran diperingkat awal denganefektif. – Hanya sekali digunakan – Tidak dianjurkan memadamkan kebakaran kelas A,C dan D – Sekiranya percampuran bahan kimia tidak betul, foamnya tidak dapat memadam kebakaran cepat – Tidak sesuai digunakan dengan alat memadam api jenis dry powder kerana powder akan memecahkan buih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 264 pengikut lainnya.