Mengenal Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus

Orangutan merupakan satu – satunya kera besar (primata tidak berekor) yang masih hidup di Benua Asia dan sebagian besar populasinya ada di Indonesia. Hasil penelitian genetika, morfologi, ekologi, tingkah laku, dan sejarah hidupnya, orangutan dibedakan menjadi dua jenis (Delgado & van Schaik, 2001; Groves, 2001; Zang dkk, 2001) yaitu : Pongo abelii yang terdapat di Sumatera Utara dan Aceh kemudian Pongo pygmaeus yang tersebar di Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur; Sarawak dan Sabah di Malaysia).

Khusus pada populasi orangutan Kalimantan terdapat variasi morfologi dan genetik sehingga dikelompokkan lagi kedalam tiga anak jenis (Groves, 2001; Warren dkk, 2001), yaitu : 1) Pongo pygmaeus pygmaeus yang tersebar di bagian Barat Laut Kalimantan (TN. Betung Kerihun, TN Danau Sentarum dan sekitarnya), Utara Sungai Kapuas sampai Timur Laut Serawak. 2) Pongo pygmaeus wurmbii memiliki sebaran pada Barat Daya Kalimantan, bagian Selatan Sungai Kapuas termasuk di kawasan TN. Sebangau dan 3) Bagian Barat Sungai Barito. Pongo pygmaeus morio yang terbatas pada Sabah dan bagian Timur Kalimantan sampai sejauh Sungai Mahakam.

Saat ini keberadaan spesies Orangutan Kalimantan di alam sangat terancam dan rentan terhadap kepunahan. Oleh IUCN Orangutan Kalimantan ditetapkan sebagai “endangered” (genting) dan terdaftar dalam Appendix I CITES yang berarti baik satwa maupun semua produk yang berasal darinya (daging, kulit rambut, kuku, kotoran, dll) tidak boleh diperdagangkan dimanapun juga.

Di Indonesia, Orangutan dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada yaitu dalam Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 tahun 1931, Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991.

Orangutan hidup semi soliter (cenderung sendiri), mereka merupakan hewan arboreal (beraktifitas lebih banyak di pepohonan) yang berukuran besar, memiliki daerah jelajah yang luas (1 – 2 km/hari), dan masa hidup panjang (dapat lebih dari 50 tahun). Orangutan berperan penting dalam pemencaran biji untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ketidakhadiran Orangutan di hutan dapat mengakibatkan kepunahan suatu jenis tumbuhan yang penyebarannya tergantung oleh primata ini.

Kelestarian hidup Orangutan sangat bergantung pada hutan tropis yang mejadi habitatnya, mulai dari hutan dataran rendah, rawa, kerangas, hingga hutan pegunungan dengan ketinggian lebih kurang 1800 m dpl (Payne, 1987 dan van Schaik dkk, 1995). Di Kalimantan batas ketinggian populasi Orangutan sekitar 500 – 800 m dpl. Sebagai makhluk hidup yang sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Oleh karenanya, orangutan dapat dijadikan sebagai species payung (umbrella species) untuk konservasi hutan hujan tropis.

Orangutan jantan dewasa berpipi (Maias Capan – bahasa Dayak Iban) besarnya dua kali besar betina dewasa atau jantan dewasa tidak berpipi (Maias Timbau – bahas Dayak Iban). Betina dewasa orangutan dapat dijumpai berjalan bersama dengan anaknya yang masih kecil, sedangkan anaknya yang remaja atau pra-dewasa (Maias Kesak – Bahasa Dayak Iban) sudah hidup mandiri dan mulai mencari pasangan. Oragutan betina siap bereproduksi (melahirkan) pada usia sekitar 14 tahun dengan lama kehamilan 8 – 9 bulan.Setiap kelahiran orangutan hanya menghasilkan satu bayi dengan jarak kelahiran 7 – 9 tahun (Wich dkk, 2009).

Orangutan termasuk hewan omnivora, namun sebagian besar dari mereka hanya memakan  tumbuhan dan 90% dari makanannya berupa buah –buahan sehngga disebut juga frugivora. Selain itu, mereka memakan kulit pohon, dedaunan, bunga, liana dan beberapa jenis serangga. Hingga saat ini dari stasiun – stasiun riset yang berada di daerah sebarannya (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Aceh dan Sumatera Utara) tercatat lebih dari 1000 species tumbuhan, hewan kecil dan jamur yang menjadi makanan orangutan (Rodman, 1973; MacKinnon, 1974; Rijksen, 1978; Galdikas, 1988; Utami dan van Hooff, 1997, Ruson dkk, 2009).

Biasanya induk Orangutan akan mengajarkan anaknya bagaimana cara mendapatkan makanan dan minuman dari berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan. Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam.

2 thoughts on “Mengenal Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus

  1. Ping balik: Mengenal OrangUtan, People of the Forest | jalanjalanyuk.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s