Ramin Gonystylus bancanus di Taman Nasional Sebangau

Kalau kita memasuki hutan di hulu sungai sebangau, yang merupakan hutan gambut dengan kondisi yang relatif masih baik maka kita akan menjumpai jenis pohon ini. Orang kalimantan menyebut pohon ini dengan nama pohon Gaharu, Gaharu Buaya, Merang, Menyan, Jungkang Adung, Sriangun, Medang Keladi atau Gerima. Kalau nama ilmiahnya Gonystylus bancanus.

Jenis ini sebenarnya sudah langka karena dahulu memang menjadi kayu favorit yang banyak diincar (Era jaya-jayanya HPH di kawasan Sebangau).  Di pasar  internasional  ramin merupakan bahan ekspor andalan kayu dari negara – negara Asia Tenggara dan tergolongan kayu mewah yang banyak dicari karena ringan, berserat halus dan penampilannya yang mengkilat. Biasanya produksi dari bahan kayu ramin digunakan untuk komponen dan pelapis perabotan perabotan rumah tangga misalnya pintu, jendela, dekorasi pelapis pinggiran dinding, hiasan, bingkai lukisan, mainan kayu dan banyak lagi. Karena itu kayu Ramin disebut  juga sebagai an attrac­tive, high class utility hardwood.

J e p a n g  m e r u p a k a n negara pengimpor terbesar kayu ramin dari Indonesia.  Selama enam tahun (1995 – 2001), sebanyak ± 19,50 juta kg atau 41 % total kayu ramin yang diekspor dari Indonesia telah ditampung oleh pangsa  pasar di Jepang. Itu yang legal. Yang illegal belum tercatat lho.

Pohon Ramin termasuk jenis yang memiliki kecenderungan hidup mengelompok dengan sebaran terbatas. Ramin tergolong pohon sedang, yang memiliki batang bundar, tingginya bisa mencapai 40 – 50 m serta memiliki garis tengahnya mencapai 120 cm. Ramin memiliki kulit kayu berwarna kelabu sampai coklat kemerahan tergantung umur kayu Ramin, tidak bergetah bermiang serta beralur dangkal.

Kayunya memiliki warna putih sampai kekuningan dengan daun berbentuk jorong atau bundar telur sungsang. Kayu Ramin berwarna kuning pada waktu ditebang, apabila telah dikeringkan akan berwarna keputih -putihan. Tingkat keawetan alami kayu Ramin tergolong rendah sehingga butuh perlakuan khusus dan kayunyatergolong kelas awet V karena sangat peka terhadap serangan jasad perusak atau bubuk kayu basah (blue stain). Dengan demikian apabila ingin memperoleh ketahanan dalam pemakaian, kayu jenis Ramin harus diawetkan terlebih dahulu. Kayu Ramin tergolong jenis sangat mudah diawetkan serta mempunyai berat jenis 0,63.

Ramin tumbuh pada tanah podsolik, tanah gambut, tanah aluvial dan tanah lempung berpasir kwarsa yang terbentuk dari bahan induk endapan. Habitat Ramin mempunyai tingkat keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4. Apabila meninjau dari sifat biologisnya, Ramin bukanlah jenis tumbuhan yang mempunyai siklus perbuahan yang teratur pada tiap tahunnya dan akibatnya, regenerasi alam jenis Ramin lebih lambat dari pada jenis lain. Selain faktor di atas, kondisi lingkungan tempat tumbuh juga sangat besar pengaruhnya.Musim bunga dari pohon Ramin bervariasi setiap daerah dengan interval yang tidak beraturan. Biasanya musim berbunga pohon Ramin dari bulan Februari – Maret tetapi ada juga yang berbunga pada bulan Mei dan Oktober. Dua sampai tiga bulan kemudian tiba musim berbuah dan masaknya buah di antara bulan Oktober sampai Januari. Jika buah telah masak maka akan terlihat warna oranye kemerah­merahan. Warna tersebut merupakan warna kulit buah bagian dalam, karena kulit buah bagian luar akan mengelupas dengan sendirinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s