MONITORING SITE PENINGKATAN POPULASI ORANGUTAN KALIMANTAN Pongo pygmaeus wurmbii DI TAMAN NASIONAL SEBANGAU

Oleh : Khulfi M.K, S.Hut

(Pengendali Ekosistem Hutan Ahli BTN Sebangau)Image

 

I. PENDAHULUAN

 

a. Latar Belakang

Berdasarkan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA) tahun 2010 – 2014 yang telah ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.181/IV-Set/2010 tanggal 18 November 2010; dijelaskan bahwa salah satu sasaran strategis yang hendak dicapai sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) Ditjen PHKA adalah peningkatan populasi spesies prioritas utama yang terancam punah sebesar 3% sesuai kondisi biologis dan ketersediaan habitat.

Adapun spesies prioritas utama yang terancam punah tersebut telah ditetapkan melalui Keputusan Dirjen PHKA Nomor : SK.132/IV-KKH/2011 tentang Penetapan 14 (empat belas) Spesies Terancam Punah yang dijadikan Spesies Prioritas Utama Peningkatan Populasi 3 % pada Tahun 2010 – 2014. Ke-14 spesies tersebut dipilih dengan memperhatikan kriteria regulasi (status konservasi), ketersediaan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi, kemungkinan/ feasibility untuk berkembang, ketersediaan baseline data 2008 atau 2011, keterwakilan region, serta komitmen/ dukungan internasional/ stakeholders.

Diantara 14 spesies tersebut terdapat Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus yang memang habitatnya tersebar di Pulau Kalimantan dan juga Bekantan Nasalis larvatus; dan Kawasan TN. Sebangau juga ditunjuk sebagai salah satu site prioritas utama peningkatan populasi terancam punah khususnya untuk Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus dan Bekantan Nasalis larvatus.

Kawasan TN. Sebangau merupakan ekosistem gambut yang terletak di antara Sungai Katingan dan Sungai Sebangau, Kalimantan Tengah. Kawasan ini ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK.423/Menhut-II/2004 seluas ± 568.700 ha tanggal 19 Oktober 2004. Pada dasarnya Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii merupakan flagship species/ umbrella species dan spesies kunci keberhasilan pengelolaan kawasan TN. Sebangau.

Berdasarkan Suhud & Saleh (2007), jumlah populasi Orangutan di Kawasan Sebangau pada tahun 1996 berjumlah 13.000 akan tetapi populasi ini terus mengalami penurunan hingga 49% dalam periode tujuh tahun yang disebabkan fragmentasi habitat, akibat kebakaran hutan dan perburuan serta pembalakan liar yang terjadi di masa yang lalu.

Estimasi berdasarkan penelitian Hudson dan Bernad tahun 2004 di kawasan Sebangau diperkirakan   terdapat 6200-6900 individu orangutan di Sebangau. Sedangkan estimasi berdasarkan survey WWF, Ancrenaz , BKSDA/ BTNS pada tahun 2007 disimpulkan terdapat 6000 – 9000 individu Orangutan di Sebangau akan tetapi habitat Orangutan saat ini tersebar pada kantong-kantong habitat di dalam kawasan TN. Sebangau. 

Morrogh et al, (2003) menyatakan bahwa kepadatan tertinggi orangutan di kawasan Sebangau berada pada hutan rawa campuran dan hutan tegakan tinggi, sedangkan BTNS (2007) dalam Purwadi (2010) menyatakan bahwa sebagian besar orangutan terkonsentrasi pada habitat yang berjarak sekitar + 4 km dari pinggir Sungai Sebangau, Sungai Katingan dan Sungai Bulan dan sedikit di daerah Sungai Bakung, Sungai Rasau, Sungai Bangah dan Sungai Paduran. Berdasarkan Purwadi (2010) Orangutan dikawasan TN. Sebangau lebih terkonsentrasi pada sub tipe hutan rawa campuran dan hutan tegakan tinggi hal ini disebabkan karena pada kedua tipe ini banyak terdapat jenis-jenis pohon yang merupakan sumber pakan Orangutan.

Ketersediaan tumbuhan pakan merupakan salah satu komponen biotik dari habitat orangutan yang sangat penting untuk menunjang kehidupan sebagaimana bagi satwa herbivora lainnya. Hal ini dikarenakan pakan bisa merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan populasi satwaliar termasuk orangutan.   

Meskipun demikian, sejak tahun 2007 belum dilakukan survey ulang terhadap populasi Orangutan di Sebangau karena kegiatan pengelolaan waktu itu lebih memfokuskan terhadap penanganan kasus – kasus illegal logging dan UPT Balai TN.Sebangau  sebagai pengelola kawasan juga baru dibentuk. Kegiatan penelitian yang dilakukan baik oleh Balai TN.Sebangau dan Mitra Kerja (WWF) lebih ke arah preferensi habitat dan dampak perubahan ikim terhadap kehidupan Orangutan di Sebangau.

Guna mendukung ketersediaan data sebaran dan populasi Orangutan, terutama di kawasan – kawasan yang masih minim data, sebenarnya perlu dilakukan serangkaian penelitian awal melalui pengumpulan informasi keberadaan orangutan; dan Pre-survey sarang orangutan kemudian dilanjutkan dengan survey sarang orangutan skala besar, jika terindikasi keberadaan orangutan (sarang orangutan atau perjumpaan langsung) melalui pre-survey sebelumnya. Oleh karena itu serangkain survey dan penelitian harus segera dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan data guna kepentingan konservasi spesies ini, terutama di TN. Sebangau.

Atas dasar pertimbangan tersebut, maka dirasa perlu untuk menentukan monitoring site guna memantau tren populasi Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii di TN. Sebangau, agar kegiatan yang dilakukan dalam rangka pencapaian IKU Ditjen PHKA terkait peningkatan populasi spesies terancam punah yang menjadi prioritas utama dapat terukur dan menjadi lebih fokus.

 

b. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penentuan monitoring site peningkatan populasi Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii di TN. Sebangau ini adalah menindaklanjuti Keputusan Dirjen PHKA Nomor : SK.132/IV-KKH/2011 tentang Penetapan 14 (empat belas) Spesies Terancam Punah yang dijadikan Spesies Prioritas Utama Peningkatan Populasi 3 % pada Tahun 2010 – 2014 serta menindaklanjuti rekomendasi dari kegiatan bimbingan teknis tenaga fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dalam rangka pencapaian IKU Ditjen PHKA terkait peningkatan populasi spesies prioritas 3%; yaitu diantaranya : masing-masing UPT menetapkan monitoring site untuk memantau trend populasi dan menyusun rencana kegiatan peningkatan populasi spesies prioritas utama terancam punah, dan kebutuhan pendanaannya.

Tujuannya adalah menetapkan monitoring site populasi Orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus wurmbii yang akan ditindaklanjuti dengan serangkaian kegiatan survey dan penelitian serta pengembangan sarana dan prasarana penunjang guna mencapai realisasi IKU Ditjen PHKA pada umumnya dan upaya konservasi insitu Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii pada khususnya.

Dengan ditentukan monitoring site populasi Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii ini diharapkan juga dapat meningkatkan minat penelitian dari pihak manapun, khususnya terhadap Orangutan di TN.Sebangau; sehingga kelestarian dari spesies ini dapat ditingkatkan. Sedangkan untuk monitoring site spesies Bekantan Nasalis larvatus di TN.Sebangau akan dibahas tersendiri karena akan terkait dengan metoda dan sebaran alaminya, atau penjumpaan langsung di lapangan.

 

II. ORANGUTAN KALIMANTAN

Orangutan merupakan satu – satunya kera besar (primata tidak berekor) yang masih hidup di Benua Asia dan sebagian besar populasinya ada di Indonesia. Hasil penelitian genetika, morfologi, ekologi, tingkah laku, dan sejarah hidupnya, orangutan dibedakan menjadi dua jenis (Delgado & van Schaik, 2001; Groves, 2001; Zang dkk, 2001) yaitu : Pongo abelii yang terdapat di Sumatera Utara dan Aceh kemudian Pongo pygmaeus yang tersebar di Kalimantan (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur; Sarawak dan Sabah di Malaysia).

Khusus pada populasi orangutan Kalimantan terdapat variasi morfologi dan genetik sehingga dikelompokkan lagi kedalam tiga anak jenis (Groves, 2001; Warren dkk, 2001), yaitu : 1) Pongo pygmaeus pygmaeus yang tersebar di bagian Barat Laut Kalimantan (TN. Betung Kerihun, TN Danau Sentarum dan sekitarnya), Utara Sungai Kapuas sampai Timur Laut Serawak. 2) Pongo pygmaeus wurmbii memiliki sebaran pada Barat Daya Kalimantan, bagian Selatan Sungai Kapuas termasuk di kawasan TN. Sebangau dan 3) Bagian Barat Sungai Barito. Pongo pygmaeus morio yang terbatas pada Sabah dan bagian Timur Kalimantan sampai sejauh Sungai Mahakam.

Saat ini keberadaan spesies Orangutan Kalimantan di alam sangat terancam dan rentan terhadap kepunahan. Oleh IUCN Orangutan Kalimantan ditetapkan sebagai “endangered” (genting) dan terdaftar dalam Appendix I CITES yang berarti baik satwa maupun semua produk yang berasal darinya (daging, kulit rambut, kuku, kotoran, dll) tidak boleh diperdagangkan dimanapun juga. 

Di Indonesia, Orangutan dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada yaitu dalam Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 tahun 1931, Undang-undang No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991.

Orangutan hidup semi soliter (cenderung sendiri), mereka merupakan hewan arboreal (beraktifitas lebih banyak di pepohonan) yang berukuran besar, memiliki daerah jelajah yang luas (1 – 2 km/hari), dan masa hidup panjang (dapat lebih dari 50 tahun). Orangutan berperan penting dalam pemencaran biji untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ketidakhadiran Orangutan di hutan dapat mengakibatkan kepunahan suatu jenis tumbuhan yang penyebarannya tergantung oleh primata ini.

Kelestarian hidup Orangutan sangat bergantung pada hutan tropis yang mejadi habitatnya, mulai dari hutan dataran rendah, rawa, kerangas, hingga hutan pegunungan dengan ketinggian lebih kurang 1800 m dpl (Payne, 1987 dan van Schaik dkk, 1995). Di Kalimantan batas ketinggian populasi Orangutan sekitar 500 – 800 m dpl. Sebagai makhluk hidup yang sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Oleh karenanya, orangutan dapat dijadikan sebagai species payung (umbrella species) untuk konservasi hutan hujan tropis.

Orangutan jantan dewasa berpipi (Maias Capan – bahasa Dayak Iban) besarnya dua kali besar betina dewasa atau jantan dewasa tidak berpipi (Maias Timbau – bahas Dayak Iban). Betina dewasa orangutan dapat dijumpai berjalan bersama dengan anaknya yang masih kecil, sedangkan anaknya yang remaja atau pra-dewasa (Maias Kesak – Bahasa Dayak Iban) sudah hidup mandiri dan mulai mencari pasangan. Oragutan betina siap bereproduksi (melahirkan) pada usia sekitar 14 tahun dengan lama kehamilan 8 – 9 bulan.Setiap kelahiran orangutan hanya menghasilkan satu bayi dengan jarak kelahiran 7 – 9 tahun (Wich dkk, 2009).

Orangutan termasuk hewan omnivora, namun sebagian besar dari mereka hanya memakan  tumbuhan dan 90% dari makanannya berupa buah –buahan sehngga disebut juga frugivora. Selain itu, mereka memakan kulit pohon, dedaunan, bunga, liana dan beberapa jenis serangga. Hingga saat ini dari stasiun – stasiun riset yang berada di daerah sebarannya (Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Aceh dan Sumatera Utara) tercatat lebih dari 1000 species tumbuhan, hewan kecil dan jamur yang menjadi makanan orangutan (Rodman, 1973; MacKinnon, 1974; Rijksen, 1978; Galdikas, 1988; Utami dan van Hooff, 1997, Ruson dkk, 2009).

Biasanya induk Orangutan akan mengajarkan anaknya bagaimana cara mendapatkan makanan dan minuman dari berbagai jenis pohon pada musim yang berbeda-beda. Melalui ini, dapat terlihat bahwa orangutan ternyata memiliki peta lokasi hutan yang kompleks di otak mereka, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan tenaga pada saat mencari makanan. Dan anaknya juga dapat mengetahui beragam jenis pohon dan tanaman, yang mana yang bisa dimakan dan bagaimana cara memproses makanan yang terlindungi oleh cangkang dan duri yang tajam.

III.  METODA KERJA

Kawasan TN. Sebangau merupakan tipe hutan sekunder yang memiliki luas ± 568.700 ha berdasarkan SK.423/Menhut-II/2004. Pada tahun 2005 pernah dilakukan Orangutan aerial survey method oleh  Ancrenaz et.al. (2005) dengan  helicopter (kecepatan terbang konstan di bawah 70 km/jam dan ketinggian juga dibuat konstan pada 60-80 m dari tinggi tajuk / kanopi) dan membuat transek dari barat ke timur dan sebaliknya untuk menentukan stratifikasi hutan guna groundsurvey.

Dari hasil survey terdahulu telah diketahui lokasi – lokasi yang menjadi kantong habitat Orangutan di TN. Sebangau. Berdasarkan hasil survey tersebut dapat dipilih lokasi – lokasi yang bisa dijadikan monitoring site populasi Orangutan. Lokasi yang akan menjadi monitoring site populasi Orangutan di TN. Sebangau ini dipilih dengan mempertimbangkan ketersediaan data awal, aksesibilitas dan sarana prasarana penunjang serta yang paling penting adalah keterwakilan sub tipe ekosistem yang memang menjadi habitat preferensial Orangutan di TN. Sebangau dan luas cakupan wilayah yang menjadi fokus penelitian.

Data – data pendukung diperoleh melalui penelusuran data sekunder (berbagai penelitian dan laporan pelaksanaan kegiatan lingkup TN. Sebangau) dan pengamatan langsung yang pernah dilakukan di lapangan. Selanjutnya akan diuraikan secara deskriptif mengenai monitoring site tersebut dan diharapkan kedepannya dapat dilakukan penelitian maupun survey lanjutan terkait Orangutan serta upaya-upaya pendukung lainnya seperti pengkayaan jenis pakan atau pemasangan camera trap pada titik- titik tertentu.

 

 

IV. KARAKTERISTIK HABITAT

            Jika ditinjau dari penutupan lahan Provinsi Kalimantan Tengah terlihat bahwa kawasan Ekosistem Gambut Sebangau adalah satu kawasan yang sangat penting keberadaannya bagi perlindungan dan pelestarian Orangutan Kalimantan Pongo pygaeus wurmbii dan satwa liar lainnya. Hal ini disebabkan karena habitat satwa liar di sekitar kawasan Sebangau telah berubah fungsi menjadi areal penggunaan lan, terutama di areal ekosistem gambut sejuta hektar yang telah dikonversi menjadi lahan pertanian dan perkebunan.

Pada awalnya, kondisi ekosistem gambut kawasan Sebangau bukanlah tempat yang sangat ideal bagi kehidupan satwa liar. Kawasan ini merupakan ekosistem hutan sekunder eks Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Indutri (HPH-TI). Di dalam kawasan ini banyak dijumpai kanal-kanal buatan yang sangat berpotensi memutus pergerakan satwa liar, areal bekas kebakaran dan areal terbuka akibat illegal logging.

Saat ini melalui upaya restorasi ekosistem yang terus dilakukan (rehabilitasi dan penabatan kanal), secara perlahan telah mengembalikan kondisi kawasan menyerupai kondisi aslinya terdahulu. Selain melalui upaya penabatan kanal untuk meninggikan permukaan air gambut, berdasarkan pengamatan di lapangan, ternyata juga banyak terdapat kanal – kanal yang telah tertutup secara alami oleh semak belukar dan bahan lainnya. Pada beberapa titik juga terlihat batang pohon yang rebah dan dijadikan sebagai jembatan penghubung bagi satwa liar untuk mencari makanan.

Berdasarkan hasil penelitian S.E. Page et al (1999) diketahui bahwa kawasan TN.Sebangau memiliki 7 (tujuh) tipe hutan, yaitu : 1) hutan riparian, 2) transisi riparian – rawa campuran, 3) rawa campuran, 4) transisi rawa campuran – hutan pole rendah, 5) hutan pole rendah, 6) hutan interior tinggi, 7) hutan dengan kanopi sangat rendah.

Tipe hutan riparian terletak dekat dengan sungai (± hingga 1 km dari tepi sungai) dan daerah ini selalu tergenang air pada saat musim hujan. Umumnya kedalam gambut di daerah ini sangat tipis (± sampai 1,5 meter). Jenis – jenis tumbuhan utama di tipe hutan ini adalah Shorea belangeran, dimana jenis ini adalah satu-satunya jenis yang bisa mencapai ketinggian 35 meter. Lapisan tajuk lainnya umumya hanya bisa mencapai ketinggian 25 – 35 meter dengan jenis – jenis tumbuhan pada lapisan ini adalah Calophyllum spp., Camnsperma coriaceum, dan Combretocarpus rotundus. Kemudian Thorachostachyum bancanum adalah jenis tumbuhan yang umumnya dapat dijumpai pada lapisan bawah.

Tipe hutan transisi riparian – hutan rawa campuran pada umumnya adalah tipe yang memiliki lebar areal yang sangat sempit (± 1 – 1,5 km dari tepi sungai) dengan kedalan gambut umumnya sampai 2 meter. Daerah tipe hutan ini merupakan daerah perbatasan naiknya air sungai dan sangat dipengaruhi oleh air yang keluar  dari daerah tangkapan air di sebelah dalam. Jenis tumbuhan yang umumnya mendominasi daerah ini adalah Shorea belangeran.

Hutan rawa campuran umumnya dapat dijumpai mulai dari batas tepi kubah gambut sampai 4 km ke dalam dengan luasan menurut WWF (2003) adalah 390.000 hektar. Kedalaman gambut umumnya berkisar 2 – 6 meter. Umumnya tegakan di dalam tipe hutan ini tinggi – tiggi dan berstrata, dimana lapisan tajuk tertinggi dapat mencapai 35 meter, lapisan tengahnya berkisar 15 – 25 meter dan lapisan paling bawah yang umumnya lebih terbuka ditumbuhi tumbuhan dengan tinggi berkisar antara 7 – 12 meter. Tipe hutan ini dicirikan juga dengan banyaknya tumbuhan yang memiliki akar stilt atau buttres; pneumatophores seringkali juga ditemukan. Jenis tumbuha yang umumnya dijumpai pada di tipe hutan rawa campuran ini adalah Aglaia rubuginosa, Calophyllum hosei, C. lowii, C. sclerophyllum, Combretocarpus rotundatus, Cratoxylum glaucum, Dyera lowii, Dactylocladus stenostachis, Ganua mottleyana, Dipterocarpus coriaceus, Gonystylus bancanus, Mazzetia leptopoda, Shorea belangeran, Shorea teysmanniana, Palaquium cochlearifolium, Palaquium eicarpum, Neoscortechina kingie dan Xylopia fusca.

Untuk tipe hutan transisi (hutan rawa campuran – hutan pole rendah umumnya dijumpai pada daerah yang berjarak 4 – 6 km dari tepi sungai dengan konsisi degradasinya yang berjalan lambat mulai dari hutan rawa campuran sampai ke hutan pole rendah. Komposisi lapisan tajuk atas dan tengah umumnya reatif sama dengan hutan rawa campuran, walaupun kerapatan Calophyllum spp.,Combretocarpus rotundatus dan Palaquium colearifolium lebih besar dibandingkan dengan hutan rawa campuran. Lapisan tajuk atas dapat mencapai tinggi 25 – 30 meter. Sangat sedikit tumbuhan yang memiliki akar stilt atau buttres; pneumatophores sangat melimpah di lantai hutan. Formasi pandan (Pandanus dan Frecinetia spp.) seringkali merupakan formasi yang luas dan berkesinambungan menutupi permuakaan tanah.

            Tipe hutan pole rendah umumnya dijumpai di daerah yang berjarak 6 – 11 km dari tepi sugai dengan kedalaman gambut yang berkisar antara 7 – 10 meter. Tinggi muka air tanah (water-table) pada umumna secara permanen tinggi dan lantai hutan sangat tidak menentu. Pohon  – pohon tumbuh dalam sebuah pulau seperti hummocks yang dipisahkan oleh dalamnya air yang umumnya akan hilang pada saat musism kemarau. Pneumatophores melimpah dan sangat rapat di atas lantai gambut. Dalam tipe ini haya dalam tipe ini hanya dijumpai dua lapisan tajuk dengan tinggi mencapai 20 meter dan lapisan bawahnya mencapai 12 – 15 meter dengan kondisi relative lebih rapat. Jenis-jenis tumuhan yang umumnya dijumpai di tipe hutan ini adalah Combretocarpus rotundus, Calophyllum fragrans, C. hosei dan sedikit dijumpai Campnosperma coariaceum serta Dactylocladus stenostachys. Formasi pandan sangat rapat dan Nepenthes spp., jumlahnya sangat melimpah.

            Tipe hutan tegakan tinggi (tall interior forest) umumnya teretak disisi miring kubah gambut, dari 12 km (dimana terdapat perubahan tipe hutan yang tegas terhadap pole rendah) sampai lebih dari 24, 5 km. Luas tipe hutan ini menurut WWF (2003) adalah 40.000 ha dengan kedalaman gabut dapat mencapai 12 meter. Tinggi permukaan air selalu di bawah permukaan gambut sepanjang tahun. Lapisan tajuk tertinggi dapat mencapai 45 m dan lapisan bawahnya dapat dibedakan antara lapisan tengah dengan ketinggia antara 15 – 25 meter dan lebih bawah 8 – 15 meter. Jenis – jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di dalam komunitas ini adalah Agathis damara, Calophyllum hosei, C. lowii, Cratoxylum glaucum, Dactylocladus stenostachys, Dipterocarpus coariaceus, Gonystylus bancanus, Dyera lowwi, Eugenia havelandii, Gymnostoma sumatrana, Koomassia malaccensis, Mezzetia leptopoda, Shorea teysmanniana, Shorea platycarpa, Vatica mangachopai,  Palaquium coclearifolium, P. leicarpum, Tristania grandifolia, Xanthopyllum spp., dan Xylopia spp.

            Sedangkan yang terakhir tipe hutan kanopi sangat rendah, terletak di titik tertinggi di anatara dua sungai, relatif terbuka, dan sedikit tumbuhan yang dapat mencapai ketinggian 1, 5 meter dan jenis tumbuhan yang umumya di jumpai di daerah ini adalah Cratoxylum spp, Calophyllum spp., Litsea spp.,  Combretocarpus rotundus, Dactylocladus stenostachys, Ploirarium alternatifolium dan Tristania spp., Pneumatophores sangat melimpah di lantai hutan.

Terkait dengan sub tipe hutan yang ada di TN. Sebangau, berdasarkan hasil penelitian Purwadi (2010), habitat yang memiliki frekuensi kehadiran Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii yang besar adalah sub tipe hutan rawa campuran dan hutan tegakan tinggi. Habitat yang disukai oleh Orangutan Kalimantan adalah habitat yang memiliki jumlah jenis tumbuhan pakan dan tumbuhan sarang yang tinggi, memiliki suhu udara yang rendah dan kelembaban yang tinggi, memiliki diameter tumbuhan berkisar antara 12,52 – 21,87 cm dengan tinggi total tumbuhan 12 – 19 m dan tinggi bebas cabang antara 2 – 8 m.

Habitat merupakan komponen kunci yang sangat penting bagi kelangsungan hidup satwa liar. Faktor utama komponen habitat satwa liar adalah pakan, air, ruang dan karakteristik struktur. Ketersediaan pakan merupakan pembatas yag paling dominan bagi sejulah spesies. Beberapa spesies akan memilih suatu habitat yang memiliki sumberdaya yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya, akan tetapi kebutuhan spesies tersebut pada umumnya tidak tersebar secara merata di seluruh lingkungan sehingga sangat beralasan untuk mengasumsikan bahwa satwa liarakan menyukai beberapa habitat tertentu dibanding lainnya. Pemilihan habitat oleh satwa liar dapat disebabkan oleh tiga hal, yakni : ketersediaan mangsa/pakan, menghindari pesaing dan menghindari predator.

Kehadiran Orangutan pada suatu habitat sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan biotik habitat itu sendiri. Komponen habitat yang paling dominan mempengaruhi frekuensi kehadiran Orangutan pada suatu habitat yang disukainya adalah jumlah jenis tumbuhan pakan tingkat pohon dan jumlah kerapatan tumbuhan pakan tingkat pohon.

V. LOKASI MONITORING SITE

            Dengan luas kawasan yang mencapai  ± 568.700 ha berdasarkan SK.423/Menhut-II/2004, adapun lokasi yang dijadikan sebagai monitoring site populasi Orangutan terkait upaya peningkatan populasinya di TN.Sebangau disajikan pada tabel 1 berikut ini (Peta lokasi seperti terlampir).

Tabel 1. Lokasi monitoring site peningkatan populasi Orangutan di TN. Sebangau

No.

Lokasi

Luas

1.

Sebangau Sanitra Indah (SSI), Resort  Mangkok, SPTN Wil. II Pulang Pisau

20.000 ha

2.

Punggualas, Resort Baun Bango, SPTN Wil. III Kasongan

20.000 ha

 

a. Sebangau Sanitra Indah (SSI)

Resort Mangkok atau SSI merupakan sebutan Pusat Penelitian Lapangan (Field Station) TN Sebangau yang terletak di SPTN Wil. II Pulang Pisau. SSI adalah kependekan dari Sanitra Sebangau Indah, yang dulunya merupakan HPH milik Negara (Inhutani). Dalam kurun waktu 1998 – 2000 HPH tersebut membuat parit/kanal untuk mengeluarkan kayu dari kawasan hutan menuju Sungai Sebangau. Setelah HPH tersebut berhenti beroperasi, kanal tersebut dipakai untuk aktivitas illegal logging oleh masyarakat dan bahakan kanal – kanal baru juga dibuat, sehingga hal ini mengakibatkan terganggunya fungsi hutan gambut sebagai pengatur tata air.

Wilayah kerja SPTN II Pulang Pisau   memiliki luas ± 174.179,84 Ha atau 38 % dari keseluruhan luas TN Sebangau dan terletak di Kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau. SPTN Wil. II Pulang Pisau dibagi menjadi 3 Resort diantaranya Resort Mangkok, Resort Bangah, dan Resort Paduran.

Di dalam kawasan di SPTN Wilayah II Pulang Pisau terdapat beberapa sungai yang berhulu dari dalam ekosistem gambut kawasan TN Sebangau diantaranya sungai Bakung, sungai Bangah, sungai Rasau, sungai Paduran  Alam & sungai Sampang dimana Sungai tersebut bermuara di sungai Sebangau. Sungai Sebangau yang terletak di sebelah timur kawasan merupakan sungai yang berhulu dari dalam kawasan tepatnya di Resort Sebangau Hulu, SPTN Wil. I Palangka Raya.

Eksploitasi hutan yang terjadi di masa lalu menyisakan kanal/saluran air (baik berupa kanal besar maupun parit) yang digunakan oleh perusahaan/ masyarakat untuk mengeluarkan kayu tebangan, telah merusak fungsi hidrologi lahan gambut. Salah satunya ialah kanal SSI yang ukurannya relatif besar dengan ukuran panjang 24 km, kedalaman parit 6 – 8 meter dan lebar 4 – 8 meter. Restorasi ekosistem gambut yang dilakukan di SSI diantaranya kegiatan penambatan kanal, monitoring air tanah, pengkayaan jenis, rehabilitasi, pembibitan dan kegiatan penelitian lainnya yang dilakukan oleh Balai TNS atau bersama mitra kerja WWF maupun pihak lainnya.

Hasil penelitian yang dilakukan di Resort Mangkok (SSI) oleh Himakova-IPB pada tahun 2010 menemukan bahwa terdapat jenis mamalia sebanyak 31 jenis, diantaranya yang termasuk dilindungi yaitu : orangutan kalimantan Pongo pygmaeus wurmbii, macan dahan Neofilus nebulosa, beruang madu Helarctos malayanus, bajing kinabalu Callosciurus baluensis dan lutung merah Presbytis rubicunda. Hasil analisis data membuktikan bahwa di Resort Mangkok (SSI) memiliki indeks kekayaan jenis yang tinggi yaitu sebesar 6,57 yang artinya kawasan ini memiliki kekayaan jenis yang tinggi.    

Resort Mangkok (SSI) merupakan salah satu site/ kantong habitat orangutan Kalimantan Pongo pygmaeus wurmbii. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Purwadi (2010), frekuensi kehadiran orangutan lebih didasarkan pada jumlah dan kerapatan jenis tumbuhan pakan serta jumlah dan kerapatan jenis tumbuhan sarang. Adapun daftar jenis tumbuhan pakan dan sarang yang dapat ditemukan di Resort Mangkok dijelaskan pada tabel 2 berikut ini.

 

 

Tabel 2. Daftar jenis tumbuhan pakan dan sarang yang ditemukan di Resort Mangkok, SPTN Wilayah II Pulang Pisau

No.

Nama local

Nama latin

Famili

Ket

1

Asam asam

Dicryoneura acumonata

Sapindaceae

Pakan

2

Banitan

Polyalthia glauca

Annonaceae

Pakan – sarang

3

Belangeran

Shorea belangeran

Dipterocarpaceae

Sarang

4

Belawan merah

Tristaniopsis sp.

Myrtaceae

Pakan – sarang

5

Belawan putih

Tristaniopsis sp.

Myrtaceae

Pakan – sarang

6

Bintan

Licania splenden

Chrysobalanaceae

Sarang

7

Damar

Agathis alba

Auracariaceae

Sarang

8

Galam tikus

Eugenia spicata

Myrtaceae

Sarang

9

Geronggang

Cratoxylum glaucum

Hypericaceae

Pakan – sarang

10

Jambu  jambu

Eugenia sp.

Myrtaceae

Sarang

11

Jinjit

Callophyllum hosei

Clussiaceae

Sarang

12

Kempas

Koompassia malaccensis

Leguminaceae

Sarang

13

Kemuning

Xantopyllum cf. ellipticum

Polygalaceae

Pakan – sarang

14

Keruing

Dipterocarpus grandiflorus

Dipterocarpaceae

Sarang

15

Ketiaw

Madchuca mottleyana

Sapotaceae

Pakan – sarang

16

Ketimpun

Anisoptera cochinchinensis

Dipterocarpaceae

Pakan – sarang

17

Lunuk/beringin

Ficus sp.

Moraceae

Sarang

18

Manggis hutan

Garcinia sp.

Guttiferaceae

Sarang

19

Meranti merah

Shorea parvifolia

Dipterocarpaceae

Pakan – sarang

20

Meranti putih

Shorea teysmanniana

Dipterocarpaceae

Sarang

21

Nyatoh kuning

Palaquium sp.

Sapotaceae

Pakan – sarang

22

Nyatoh merah

Palaquium sp.

Sapotaceae

Pakan – sarang

23

Nyatoh putih

Palaquium sp.

Sapotaceae

Pakan – sarang

24

Pantung/Jelutung

Dyera lowii

Apocynaceae

Pakan – sarang

25

Pasir pasir

Stenomurus sp.

Icacinaceae

Pakan – sarang

26

Pisang pisang

Mezzetia sp.

Annonaceae

Pakan – sarang

27

Resak

Vatica sp.

Dipterocarpaceae

Pakan – sarang

28

Simpur

Dillenie excelsa (jack) Gilg

Dilleniaceae

Pakan – sarang

29

Sindur

Sindora leiocarpa Backer

Fabaceae

Pakan

30

Terentang

Campnospermum macrophyllum

Anacardiaceae

Sarang

31

Tetumbuk

Syzgium havilandii

Myrtaceae

Sarang

32

Tumih

Combretocarpus rotundus

Rhizoporaceae

Sarang

33

Tutup kabali

Diospyros pseudomalabari

Ebenaceae

Pakan – sarang

 

 

b. Punggualas, Resort Baun Bango

Punggualas merupakan nama anak sungai dan danau yang ada di dalam kawasan TN.Sebangau. Lokasi ini berada di Wilayah Resort Baun Bango, SPTN Wilayah III Kasongan. Untuk mencapai lokasi ini dari kota Palangka Raya dapat ditempuh melalui jalur darat ke Kasongan atau desa Baun Bango. Setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan speedboat kurang lebih 15 menit atau sampan mesin guna mencapai lokasi visitor center di dalam kawasan/ melewati sungai Punggualas.

Sungai punggu alas merupakan anak sungai yang berasal dari dalam kawasan dan bermuara di sungsi Katingan. Di sungai Punggualas telah dibangun visitor center yang bisa menjadi tempat / camp penelitian flora fauna disana. Tidak jauh berbeda dengan kondisi di Resort Mangkok, dahulu tempat ini juga merupakan lokasi eksploitasi kayu sebelum kawasan TN Sebangau ditunjuk. Masih terdapat beberapa kanal buatan yang dulu dibuat untuk mengeluarkan kayu oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil dari kegiatan pembuatan jalur transek (jungle track) ekowisata berbasis research di sekitar danau Punggualas yang dilakukan oleh mitra kerja pada tahun 2009 diketahui bahwa di lokasi ini terdapat keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dan cukup mewakili keragaman jenis di areal tersebut. Dari sepanjang jalur tersebut teridentifikasi sebanyak 142 jenis dan 27 famili. Kaitannya dengan habitat orangutan kalimantan, sebagian besar dari tumbuhan tersebut merupakan sumber pakan dan dijadikan tempat bersarangnya orangutan.

Dari pelaksanaan kegiatan penelitian pengaruh perubahan iklim terhadap prilaku orangutan pada tahun 2011 yang meliputi pengamatan fenologi, habituasi dan pembuatan transek pada lokasi di sekitar camp Punggualas dapat dijumpai langsung beberapa individu Orangutan terutama pada saat musim berbuah atau berbunga tumbuhan yang menjadi pakannya. Dari hasil pengamatan fenologi, dapat diketahui lokasi – lokasi spesies pohon/tiang tertentu yang menjadi pakan dari Orangutan dan waktu/ periode musim berbuah, berbunga atau tumbuhnya tunas baru dari spesies – spesies pohon/tiang tersebut. Dengan mengetahui hal ini maka bagi peneliti atau wisatawan minat khusus yang ingin mengamati prilaku orangutan liar di TN Sebangau dapat dengan mudah menuju lokasi – lokasi yang diperkirakan akan ditemukan individu orangutan secara langsung.

Punggualas merupakan salah satu lokasi yang tepat untuk dijadikan monitoring site peningkatan populasi Pongo pygmaeus wurmbii di TN Sebangau, selain karena memang merupakan kantong habitat Orangutan di TN Sebangau, dari segi masyarakat sekitar kawasan, juga telah memahami manfaat satwa ini bagi kelestarian fungsi ekosistem dan  merupakan hal yang menarik untuk dijadikan objek daya tarik wisata alam. Desa terdekat yang masih memiliki hubungan erat dengan kawasan TN Sebangau khususnya di sungai Punggualas adalah desa Jahanjang dan desa Kruing. Masyarakat di desa-desa sekitar Punggualas telah dipersiapkan oleh Balai TN Sebangau maupun mitra kerja WWF guna mendampingi paket – paket ekowisata berbasis research atau wisata minat khusus dan juga dilibatkan baik melalui pamhut swakarsa, masyarakat peduli api dan disertakan dalam   sosialisasi – sosialisasi ekowisata maupun penangguangan konflik antara manusia dan satwa liar.

Selain itu, faktor lain berupa ketersediaan tumbuhan pakan juga melimpah di tempat ini. Adapun beberapa jenis pohon/tiang yang berhubungan erat dengan pola hidup Orangutan yang ada di lokasi ini antara lain dijelaskan pada Tabel 3 berikut.

 

 

Tabel 3. Beberapa jenis tumbuhan pohon dan tiang yang ditemukan di Punggualas, Resort Baun Bango – SPTN Wilayah III Kasongan

No.

Nama local

Nama latin

Famili

Ket

1

Terentang

Camnosperma auriculata

Anacardiaceae

Berbuah

2

Rahanjang

Xilopia fusca

Annonaceae

Berbuah

3

Kaliwang

Crudia sp.

Caesalpinaceae

Berbuah/Sarang

4

Bintan

Licania splenden

Chrysobalanaceae

Berbuah

5

Meranti

Shorea sp

Dipterocarpaceae

Berbuah/Sarang

6

Rasak

Vatica rassak

Dipterocarpaceae

Berbuah

7

Ehang

Diospyros siamang

Ebenaceae

Berbuah

8

Malam – malam

Diospyros sp.

Ebenaceae

Berbuah/Sarang

9

Tutup Kabali

Diospyros pesudomalabari

Ebenaceae

Berbuah/Sarang

10

Kamasira

Chaetocarpus casanocarpus

Euphorbiaceae

Berbuah

11

Takurak

Castanopsis sp

Fagaceae

Berbuah

12

Hampaning

Quercus hosei

Fagaceae

Berbuah/Sarang

13

Bintangur

Calophyllum sp

Guttiferae

Berbuah

14

Parut

Calopyllum sp

Guttiferae

Berbuah

15

Gantalang

Garcinia sp

Guttiferae

Berbuah/Sarang

16

Kayu kulat

Cantleya corniculata

Icacinaceae

Berbuah

17

Medang perawas

Litsea sp.

Lauraceae

Berbuah/Sarang

18

Panguan

Alseodaphne bancana

Lauraceae

Berbuah

19

Lunuk

Ficus sp.

Moraceae

Berbuah/Sarang

20

Daha

Myristica iners

Myristicaceae

Berbuah

21

Daha Baputi

Myristica sp

Myristicaceae

Berbuah

22

Galam

Melaleuca leucadendron

Myrtaceae

Berbuah

23

Galam Tikus

Eugenia spicata

Myrtaceae

Berbuah

24

Tatumbu

Syzygium havilandii

Myrtaceae

Berbuah/Sarang

25

Oweh

Eugenia sp.

Myrtaceae

Berbuah/Sarang

26

Kemuning

Xanthophyllum sp

Polygalaceae

Pucuk daun

27

Kajalaki

Adina fagifolia

Rubiaceae

Berbuah/Sarang

28

Katiau

Modhuca motleyana

Sapotaceae

Berbuah/Sarang

29

Nyatu bawui

Nyatu bawui

Sapotaceae

Berbuah/Sarang

30

Tampang gagas

Tampang gagas

Sapotaceae

Berbuah/Sarang

31

Ramin

Gonystylus bancanus

Thymelaeceae

Berbuah

32

Bangkinang

Elaeocarpus glaber

Tiliaceae

Berbuah/Sarang

33

Bangkinang tikus

Elaeocarpus palembanicus

Tiliaceae

Berbuah/Sarang

34

Lewangan

 

 

Berbuah/Sarang

35

Karurang

 

 

Berbuah/Sarang

36

Malabawi

 

 

Berbuah

37

Pajunjung

 

 

Berbuah

38

Piais

 

 

Berbuah/Sarang

39

Pupuh pelanduk

 

 

Berbuah/Sarang

40

Sagagulang

 

 

Berbuah/Sarang

41

Lunding

 

 

Berbuah

VI. SURVEI SARANG ORANGUTAN

 

Untuk mendukung ketersediaan data sebaran dan populasi orangutan di lokasi yang telah ditetapkan sebagai monitoring site orangutan kalimantan di TN Sebangau maka perlu dilakukan survey sarang orangutan untuk penghitungan populasinya di alam. Mengapa harus menggunakan sarang? Karena seperti kera besar lainnya di Afrika (gorilla, bonobo dan simpanse), orangutan membuat sarang tidur setiap hari dengan lokasi yang berbeda. Umumnya adalah sarang baru, tetapi pada beberapa kasus orangutan juga memperbaiki sarang lama sebagai sarang tidur atau membuat sarang istirahat pada waktu siang.

Perhitungan populasi orangutan menggunakan perjumpaan langsung dengan orangutan merupakan hal yang sangat sulit dilakukan, hal ini disebabkan karena orangutan adalah primata semi soliter yang sangat pemalu dan jumlahnya tidak melimpah. Dengan metode perjumpaan langsung maka data perhitungan memiliki tingkat kesalahan yang tinggi. Melihat kondisi tersebut, maka metode penghitungan sarang orangutan adalah metode yang memungkinkan.

Secara umum bentuk sarang orangutan hampir menyerupai sarang burung elang, sarang tupai besar, maupun sarang beruang madu. Yang membedakan dengan sarang orangutan adalah bagian patahan dahan yang digunakan sebagai pondasi sarang.

Penghitungan kepadatan sarang dapat dikembangkan untuk menghasilkan perkiraan kepadatan populasi kera besar, paling tidak jika diasumsikan bahwa proses kehancuran sarang (t) berlangsung pada suatu kecepatan tertentu. Akbitnya, jika dibandingkan dengan penghitugan individu secara langsung, penghitungan sarang tidak begitu terpengaruh oleh fluktuasi populasi musiman.

Perkiraan kepadatan sarang OU yang dijumpai dimasukkan dalam rumus :

                    d = N/ (L .2w)

      Dimana :

d = Kepadatan (primata atau sarang /km2)

N  = Jumlah Individu atau sarang OU

L  = Panjang transek

w  = Lebar efektif pengamatan (m)

Kepadatan orangutan dapat diestimasi dari penghitungan sarang menggunakan persamaan berikut (van Schaik dkk 1995) :

           D = d / (p . r . t)

D = kepadatan orangutan (individu/ km2)

d  = kepadatan sarang orangutan

p = proporsi populasi yg dapat membuat sarang

r = rata – rata sarang diproduksi (n/hari/ individu)

t   = decay rate/waktu peluruhan sarang (hari)

Acuan nilai p r t untuk rawa gambut ialah nilai p = 0,89 ; r = 1,17 ; t = 365 (TN Sabangau; Penelitian Husson dkk, 2009).

 

Pada dasarnya survey harus dilaksanakan pada semua tipe hutan yang ada di dalam kawasan. Desain survey menggunakan program Distance 5.0 dan Arcgis guna menentukan jalur transek. Paling tidak harus mendapatkan 60-80 perjumpaan/sarang di kawasan yg besar agar pas dengan fungsi deteksi dan Paling tidak harus ada 20 jalur/ transek untuk dapat menghitung ‘rata-rata perjumpaan’ (n/L), ketika jumlah panjang jalur/ transek harus ditentukan oleh tingkat ketelitian maka diperlukan riset yg lebih spesifik/ sesuaikan dengan tujuan manajemen

Dalam pelaksanaannnya di lapangan, di setiap lokasi pada kunjungan pertama, semua sarang yang dijumpai dicatat (lokasi, nama pohon, jarak sarang ke jalar/ transek, kelas sarang, ketinggian, posisi sarang) dan diberi tanda kemudian posisi sarang diambil dengan GPS.

Kelas sarang dapat diartikan sebagai kelas kerusakan/ kehancuran sarang, terdiri dari empat kelas dan dipakai untuk memprediksi kondisinya dengan ciri – ciri sebagai berikut :  Kelas 1:  sarang masih segar dan baru, semua daun masih hijau; Kelas 2:  daun sudah mulai tidak segar, semua daun masih ada, bentuk sarang masih utuh, warna daun sudah coklat terutama di permukaan sarang, belum ada lubang yang terlihat dari bawah, Kelas 3 : sarang tua, semua daun sudah coklat bahkan sebagian daun sudah hilang dan sudah terlihat adanya lubang dari bawah.

Selain mengetahui kelas sarang, posisi sarang juga dicatat sebagai informasi tambahan dengan menggunakan 5 posisi sarang orangutan (van Schaik dkk, 1995 dan Prasetyo dkk, 2009) dan jika ada tambahan baru maka akan menjadi catatan pendting di masa mendatang.

Hal terpenting lainnya yang bisa dilakukan sekaligus bersamaan dengan aktifitas survey sarang ialah memperhatikan parameter ekologi yaitu mengukur kualitas habitat orangutan dengan menghitung kelimpahan pohon buah yang sedang berbuah per km sepanjang jalur transek atau disebut juga fuit tail (van Schaik dkk 1995; Buij dkk 2002). Jika menjumpai buah di jalur transek, cari pohon asal buah di sisi jalur transek dan catat informasi yang diperlukan terkait jenis tumbuhan tersebut di lapangan.

 

VII. Penutup

Penjelasan diatas menunjukkan pentingnya suatu program pemantauan populasi orangutan terpadu yang dapat menghasilkan data – data yang dapat diandalkan dan  mudah diakses serta mampu menjelaskan sebab – sebab perubahan populasi orangutan khususnya di TN Sebangau.

Lokasi monitoring site perlu ditetapkan agar dalam penghitungan populasi orangutan di alam dapat benar – benar terkonsentrasi dan data yang diperoleh tidak bias. Dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin terhadap populasi orangutan Kalimantan di habitat alaminya di TN Sebangau diharapkan hal ini dapat memberikan output maupun feedback yang baik bagi pengelolaan spesies yang terancam punah ini.

Peningkatan kapasitas SDM dan  Sarana – prasarana penunjang fasilitas penelitian, contohnya seperti pemasangan camera trap,  juga merupakan faktor lain yang benar – benar harus diperhatikan jika memang benar – benar ingin melestarikan spesies ini di alam. Karena  untuk faktor eksternal seperti keamanan lokasi dan sosialisasi dengan masyarakat hingga saat ini, Balai TN Sebangau masih bisa menjamin kelestarian spesies ini di alam , namun dukungan dari pihak lain / stake holders tetap diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anonim. 2011. Materi Bimbingan Teknis Pengendali Ekosistem Hutan Pencapaian IKU PHKA Peningkatan Populasi Spesies Terancam Puna, Ciloto – Cianjur 4 Desember 2011.

Anonim. 2012. Laporan Tahunan Balai TN Sebangau Tahun 2011

Atmoko S.S.U., Meididit A. Panduan Survey Sarang Orangutan. Materi Pelatihan Survey Sarang Orangutan, Palangka Raya 23 -24 September 2011.

Khalwani K.M. 2011. Laporan Supervisi Pengamatan Prilaku Orangutan di Sungai Punggualas, Resort Baun Bango – Balai TN Sebangau.

Purwadi. 2010. Karakteristik Habitat Preferensial Orangutan Pongo pygmaeus wurmbii di Taman Nasional Sebangau.[Thesis]. Bogor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s