Hutan Tanaman Industri Untuk Energi Alternatif Terbarukan Juga Merupakan Upaya Konservasi

Oleh : Khulfi M. Khalwani, S.Hut

Berbicara tentang energi alternatif yang bersifat terbarukan terpikir oleh saya arti lain dari konervasi hutan secara luas. Tidak bisa dipungkiri bahwa pertambangan batu bara, minyak bumi dan gas masih menjadi salah satu roda penggerak dari kendaraan perekonomian dunia. Disisi lain, lama – kelamaan sumber daya tersebut juga akan habis karena faktor keterbatasannya. Selain itu tata cara untuk memperolehnya pun, terkadang pada kenyataannya banyak bertentangan dengan kaidah – kaidah pelestarian lingkungan fisik dan biologi. Lalu muncullah perkembangan sumber energi alternatif biodiesel diantaranya dari minyak kelapa sawit. Tetapi konversi hutan menjadi kebun sawit terkadang masih dianggap sebagai musuh konservasi karena berkurangnya habitat satwa liar dan bahkan sebagian satwa liar pada kasus – kasus tertentu dianggap sebagai hama dari tanaman kelapa sawit.

Kemudian saya mengetahui bentuk sumberdaya energi alternatif baru lainnya, yaitu berupa pellet kayu (woods pellet) atau energi biomassa. Bahan bakunya berasal dari limbah industri penggergajian, limbah tebangan dan limbah industri kayu lainnya. Pellet kayu adalah serpihan kayu atau sisa-sisa hasil produksi kayu yang berdiameter 6-8 mm dan berukuran panjang 10-30 mm, dan sudah kering. Serpihan kayu ini kemudian mengalami proses lanjut tanpa campuran kimia, ditekan dengan tekanan kuat menggunakan mesin khusus. Pellet menghasilkan panas kurang lebih 4,7 – 4,9 kWh/kg atau 19.6GJ./od Mg karena memiliki kadar air yang rendah (8-10%), kadar abu (0,5-1%) dengan kerapatan / Kepadatan rata-rata 650 kg/m3 atau 1,5 m3/ton. Mempunyai rasio energi yang tinggi antara output dan inputnya yaitu 19:1 ~ 210:1.

Satu kilogram pellet kayu menghasilkan panas yang sama dengan yang dihasilkan oleh setengah liter minyak (Leaver, 2008). Pellet kayu yang berbentuk silinder dapat digunakan sebagai bahan bakar kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri besar. Pellet kayu merupakan salah satu sumber energi alternatif dan ketersediaan bahan bakunya sangat mudah ditemukan. Bahan baku pellet kayu berupa limbah eksploitasi seperti sisa penebangan, cabang dan ranting, limbah industri perkayuan seperti sisa potongan, serbuk gergaji dan kulit kayu, limbah pertanian seperti jerami dan sekam (Woodpellets, 2000).
Pemanfaatan pellet kayu sebagai bahan pemanas ruangan dan pembangkit listrik telah dimulai sejak dekade 90-an di sebagian besar negara Uni Eropa dan Amerika ketika terjadi lonjakan harga minyak dunia yang mengakibatkan terjadinya krisis minyak dunia. Pellet kayu merupakan produk yang dibuat dari bahan biomassa tanaman yang kemudian mengalami proses pengempaan. Pellet kayu merupakan solusi alternatif pengganti minyak karena memiliki harga yang cukup terjangkau oleh masayarakat Uni Eropa dan Amerika. Tingginya produktifitas dan permintaan pellet kayu terkait adanya kebijakan dari negara-negara di dunia untuk mengurangi efek pemanasan global dan pemanfaatan energi alternatif (Leaver, 2008).

Saat ini Indonesia baru mampu menghasilkan pellet kayu sebanyak 40.000 ton/tahun, sedangkan produksi dunia telah menembus angka 10 juta ton. Jumlah ini belum cukup memenuhi kebutuhan dunia pada tahun 2008 yang diperkirakan mencapai 12,7 juta ton. Peluang mengembangkan bahan bakar ini sangat terbuka luas karena limbah hasil hutan kita sangat besar, baik dari limbah industri perkayuan maupun dari limbah eksploitasi (Yayasan Energi Nasional, 2009).

Bisa dibayangkan jika energi alternatif pellet kayu ini benar-benar dikembangkan mungkin suatu saat nanti tidak akan perlu lagi menggali bumi beserta isinya hanya untuk memperoleh berbongkah – bongkah batu bara yang lama – kelamaan juga akan habis.

Lalu bagaimana cara meperoleh bahan baku pellet kayu yang cukup banyak ??? Menurut saya pemanfaatan hutan melalui Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK-HTI) atau yang dulu dikeal dengan nama Hutan Tanaman Industri adalah jawabannya.

Pemanfaatan hutan melalui Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (IUPHHK-HTI)baik terintegrasi atau tidak dengan Industri Pengolah Kayu Hulu (IPKH), secara ekonomi dapat diharapkan akan berperan dalam menyumbang devisa negara, perluasan kesempatan kerja serta menciptakan iklim perekonomian yang lebih kondusif. Akan tetapi disisi lain, “hutan” sebagai suatu ekosistem yang memiliki keanekaragaman sumberdaya di dalamnya, memiliki multifungsi yang tidak terukur, tidak hanya sebatas fungsi ekonomi (produksi) saja, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kehidupan dari flora dan fauna yang hidup di dalamnya, serta fungsi sosial yang dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat yang hidup berdampingan dan memiliki ketergantungan dengan hutan. Oleh sebab itu, keseimbangan masing-masing fungsi dalam pemanfaatan “hutan” harus menjadi azas dalam “perencanaan” pengelolaan hutan yang lestari, dan tidak hanya mementingkan salah satu fungsi dari fungsi lainnya.

Berdasarkan paradigma pengelolaan hutan ke depan sebagaimana disampaikan di atas, Pemerintah yang berperan sebagai regulator, berupaya mengarahkan pembangunan kehutanan yang berwawasan dan berazaskan keseimbangan kelestarian dari masing-masing fungsi hutan, yakni fungsi produksi, fungsi lingkungan, dan fungsi sosial.

Pembangunan yang berwawasan dan berazaskan kelestarian lingkungan seperti yang diuraikan dalam UU No. 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, yaitu memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam secara bijaksana dalam pembangunan berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup. Dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang “Kehutanan” juga dijelaskan tentangbagaimana pengelolaan hutan secara lestari dan berkesinambungan untuk kemakmuran rakyat melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat terutama yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan.

Sebagai implementasi kebijakan Pemerintah RI c.q. Kementerian Kehutanan tentang pemanfaatan hasil hutan kayu yang harus dilaksanakan dengan berwawasan dan berazaskan pada pengelolaan hutan secara lestari, dalam pelaksanaan operasionalnya dipercayakan kepada pihak swasta sebagai pemegang izin pengusahaan hutan, baik pada hutan alam atau hutan tanaman.

Ketentuan yang mengatur tentang pemberian IUPHHK-HTI tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kehutanan No. P.50/Menhut-II/2010 tentang tentang Tata Cara Pemberian dan Perluasan Areal Kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Alam, IUPHHK Restorasi Ekosistem, atau IUPHHK Hutan Tanaman Industri Pada Hutan Produksi .

Upaya Pemerintah yang lain adalah konservasi energi melalui penggunaan energi terbarukan, sebagaimana pernyataan Presiden RI (Susilo Bambang Yudoyono) bahwa lndonesia akan menjalankan program nasional guna memenuhi komitmen penurunan emisi gas buang sebanyak 26% sampai dengan tahun 2020. Pemerintah akan menindaklanjuti pernyataan Presiden melalui program MRV (Monitoring, Reporting dan Verification).
Energi terbarukan merupakan suatu program yang terkait dengan proyek Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM), dan salah satunya adalah rehabilitasi lahan dalam bentuk reboisasi dan penghijauan. lndustri yang berbasis kehutanan harus memiliki komitmen dalam pengurangan emisi gas buang, serta dapat mengaplikasikan bahan baku kehutanan mencapai zero waste.

Salah satu bahan bakar biomassa yang mendapat perhatian lnternasional seiring meningkatnya harga bahan bakar fosil adalah Pellet Kayu (Wood Pellet). Pellet Kayu adalah bentuk energi biomassa yang dipadatkan dengan bentuk dan ukuran yang seragam, untuk lebih mudah disimpan dan digunakan. Bahan baku untuk membuat pellet kayu adalah biomassa dalam bentuk hidup (dapat berupa tegakan kayu dari hutan alam dan atau hutan tanaman, kayu rakyat, dll) dan biomassa mati seperti limbah kayu, serbuk gergaji, dan lain-lain.

Pengembangan IUPHHK-HT sebagai bahan baku Pellet Kayu masih lebih baik menurut saya, karena status kawasan yang berhutan tentunya merupakan habitat yang lebih baik bagi satwa liar dibandingkan kawasan yang tidak berhutan.

“Hutan Untuk Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat Tanpa Mengorbankan Habitat Satwa Liar”
(Khulfi M. Khalwani, S.Hut)

2 thoughts on “Hutan Tanaman Industri Untuk Energi Alternatif Terbarukan Juga Merupakan Upaya Konservasi

  1. saya mau tanya, untuk perizinan di Kementerian Kehutanan itu berarti IUIPHHK dan SVLK? karena pada Peraturan Kemenhut P. 35/Menhut-II/2008 tidak ada jenis usaha Wood pellet. mohon informasinya, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s