ANALISIS HUBUNGAN LUAS HUTAN DUNIA DENGAN POLA KEPEMILIKAN LAHAN HUTAN 1)

Oleh : Khulfi M. Khalwani, S.Hut (NRP. E451124041)

1) Makalah Tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Kehutanan Internasional Tahun Ajar 2012/2013, Dosen : Prof. Dr. Endang Suhendang,MS.

 

 

I. PENDAHULUAN

            Pada dua dekade terakhir ini, kesadaran masyarakat dunia akan fungsi dan keberadaan hutan semakin meningkat, khususnya terkait dampak deforestasi dan degradasi hutan terhadap emisi karbon dan perubahan iklim global. Meskipun demikian, luas hutan yang ada di dunia dari tahun ke tahun tetap mengalami tren penurunan atau bisa dikatakan bahwa kerusakan hutan, baik dalam bentuk deforestasi maupun degradasi masih terus berjalan. Salah satu indikasinya adalah hutan alam dunia dalam dekade berjalan terus berkurang.

            Berdasarkan data FAO dalam Global Forest Resource Assesment 2010, disebutkan bahwa pada tahun 1990 luas tegakan hutan di dunia adalah seluas 4.168.399.000 ha, sedangkan pada tahun 2000 berkurang menjadi 4.085.168.000 ha, kemudian pada tahun 2010 luas hutan dunia berkurang lagi menjadi 4.033.060.000 ha. Meskipun pada beberapa negara pada tahun 2005 menunjukkan tren peningkatan jumlah hutan melalui pembangunan hutan tanaman, tetapi secara global tren negatif/ penurunan jumlah hutan cenderung lebih banyak terjadi.

            Gardner dan Engelman (1999) telah mengidentifikasi beberapa faktor, yang diklasifikasikan sebagai penyebab yang melatarbelakangi/ mendasari kehilangan hutan/ deforestasi di dunia, yaitu : a). perubahan populasi, baik peningkatan jumlah, perpindahan dan kepadatan penduduk, b). orientasi pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, c). kegagalan pasar, dalam hal ini adanya ketidaktepatan mengukur nilai barang dan jasa hutan, serta  d). kesalahan kebijakan dalam penetapan harga dan pajak, termasuk diantaranya besarnya subsidi, tarif pungutan dan monopoli (pembatasan) perdagangan. Termasuk juga kesalahan kebijakan dalam program pemindahan penduduk (di Indonesia dikenal dengan transmigrasi), serta permasalahan korupsi.

            Selain faktor – faktor yang mendasari penurunan luas hutan, Gardner dan Engelman (1999) juga menjabarkan faktor – faktor peyebab langsung deforestasi hutan, diantaranya adalah : a. konversi hutan untuk pertanian (yang bersifat subsisten, komersil, perkebunan dan pengembalaan), b. pengusahaan hutan porduksi, c. pengembangan infrasturktur dan industri (jalan, bendungan, tambang, perumahan dll) serta d. produksi kayu bakar dan arang.

            Tren kecenderungan luas hutan dunia dan pola kepemilikan lahan hutan di beberapa negara di dunia telah dilakukan pendataannya oleh FAO, diantaranya persentase kepimilikan hutan sebagai kepemilikan publik dan kepimilikan pribadi, (individu, badan usaha dan lembaga, serta kepemilikan masyarakat lokal dan adat). Analisa kualitatif dapat dilakukan terhadap hubungan antara tren penurunan luas hutan di dunia dengan pola kepemilikan lahan hutan berdasarkan data-data kuantitatif Global Forest Resource Assesment yang diterbitkan oleh FAO dan penelusuran pustaka lainnya.

 

II. TREND LUAS HUTAN DAN POLA KEPEMILIKAN HUTAN

            Pada tabel 1 berikut ini, dapat menjelaskan trend kecenderungan luas hutan dunia selama dua dekade terakhir berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh FAO (2010).

Tabel 1. Trends in Extent of Forest 1990 – 2010

Forest area (1 000 ha)

Annual change rate

1990

2000

2005

2010

1990-2000

2000-2005

2005-2010

1000 ha/yr

%

1 000 ha/yr

%

1 000 ha/yr

%

4168399

4085168

4060964

4033060

-8323

-0.20

-4841

-0.12

-5581

-0.14

Sumber : FAO (2010)

            Pada tahun 1990,  luas tegakan hutan di dunia adalah seluas 4.168.399.000 ha sedangkan pada tahun 2000 luas tegakan hutan di dunia berkurang menjadi 4.085.168.000 ha. Dalam kurun waktu satu dekade tersebut, luas hutan dunia berkurang sebesar 83.831.000 ha atau rata-rata hutan dunia berkurang seluas 8.383.000 ha/tahun (0,20 %). Pertumbuhan ekonomi dan populasi secara langsung meningkatkan konsumsi kayu di dunia. Gardner dan Engelman (1999) menyatakan bahwa hingga tahun 1995, konsumsi kayu dunia meningkat hingga 60 persen, 1,8 milyar m3 konsumsi untuk kayu bakar dan 1,5 milyar m3 konsumsi untuk industri atau total sebesar 3,3 milyar m3.

            Pada periode tahun 1990 hingga 1995, FAO mendefinisikan hutan dengan kriteria yang berbeda dalam menetapkan suatu kawasan sebagai hutan pada negara maju dan berkembang. Untuk negara-negara maju (Eropa, Amerika Utara dan Australia) digunakan batas penutupan lahan minimal 20%, sementara untuk negara sedang berkembang pada batas minimal 10%. Hutan dalam kriteria penutupan lahan dalam hal ini didefinisikan sebagai lahan dengan vegetasi tegakan yang didominasi pohon dengan tinggi minimal 5 meter.

            Menurut Suryanto (2012) fenomena penambahan jumlah hutan terjadi pada saat penilaian pada tahun 2000. Pada penilaian tahun 2000 tersebut, kriteria batas minimal ini disamakan menjadi 10%. Perubahan kriteria ini mengakibatkan adanya perubahan status hutan di banyak kawasan di negara-negara maju, yang mana sebelumnya tidak didefinisikan sebagai hutan menjadi dinilai sebagai hutan. Hal inilah yang menyebabkan adanya fenomena penambahan luas hutan. Penambahan signifikan terjadi di negara-negara federasi Rusia dan Australia. Pada tahun 1995, federasi Rusia dan Australia dinilai memiliki luas hutan sebesar 764 juta ha dan 41 juta ha. Dengan adanya perubahan kriteria tersebut, pada tahun 2000 dua negara maju ini dinilai memiliki luas hutan menjadi 850 juta ha dan 155 juta ha pada. Penambahan luas hutan akibat perubahan kriteria ini menutupi fenomena lainnya bahwa laju pengurangan hutan di negara-negara sedang berkembang sesungguhnya terus berjalan.

            Luas hutan di dunia pada tahun 2005 adalah sebesar 4.060.964.000 ha. Dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2000 s.d tahun 2005 luas hutan berkurang seluas 24.204.000 ha atau laju pengurangan seluas 4.841.000 ha/tahun (0,12 %).

            Pada penilaian tahun 2005 menunjukkan bahwa negara-negara maju seperti Amerika, Kanada, Australia dan beberapa negara di Eropa berhasil menunjukkan tren peningkatan jumlah hutan di negaranya. Fenomena peningkatan tidak sekedar  dibantu oleh perubahan kriteria FAO akan hutan, tetapi dengan beberapa keberhasilan negara-negara tersebut dalam mebangun hutan – hutan tanaman. Sementara itu, di Asia, peningkatan signifikan jumlah hutan terjadi di China, yaitu dengan keberhasilannya membangun hutan-hutan tanaman dan hutan-hutan bambu.

            Peningkatan jumlah hutan juga terjadi di negara-negara Asia timur lainnya, seperti Jepang dan Korea serta India. Untuk Asia lainnya, bersama Afrika dan Amerika Selatan, tren penurunan jumlah hutan terus terjadi, terutama disebabkan oleh perubahan fungsi hutan alamnya menjadi lahan pertanian atau perkebunan atau karena pengelolaan hutan yang tidak baik. Penurunan terbesar terjadi di Brasil/ Amerika Selatan, Afrika dan Indonesia. Sehingga secara total, luas hutan dunia tetap turun.

            Jumlah deforestasi dikurangi dengan jumlah penanaman menghasilkan jumlah bersih kehilangan hutan. Jumlah bersih kehilangan hutan dunia sepanjang tahun 2000-2005 cukup mengalami penurunan dari jumlah bersih kehilangan hutan dunia pada periode 1990-2000.

            Pada tahun 2010 luas hutan diseluruh dunia berkurang seluas 27.904.000 ha dibandingkan pada tahun 2005 atau menjadi 4.033.060.000 ha. Laju penurunan luas hutan dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2005 s.d tahun 2010 adalah sebesar 4.841.000 ha/tahun.

            Jika dibandingkan dengan dekade tahun 1990 s.d tahun 2000 laju penurunan luas hutan mencapai 8.383.100 ha/tahun, pada dekade tahun 2000 s.d tahun 2010 luas hutan berkurang 52.108.000 ha atau laju penurunan luas hutan rata – rata pertahun adalah  seluas 5.210.800 ha/tahun. Secara umum penurunan luas hutan (deforestasi) dunia digambarkan pada gambar grafik berikut ini.

 Image

Gambar 1. Grafik Tren Penurunan Luas Hutan Dunia (FAO, 2010)

            Penting untuk diperhatikan bahwa terdapat tren daerah positif maupun negatif. Yaitu, terdapat sejumlah wilayah hutan yang diperoleh (meningkat) seiring dengan berjalannya waktu dan dalam jumlah yang lebih besar lagi adalah yang hilang (deforestasi).

             Jika dihubungkan dengan pola kepemilikan lahan hutan di seluruh dunia, terlihat bahwa pada beberapa negara berkembang, khususnya di Asia Tenggara, yang dinilai oleh FAO merupakan penyumbang laju deforestasi tertinggi, sebagian besar memiliki pola kepemilikan lahan hutan seagai public ownership dan hanya sebagian kecil dari lahan hutan ( < 20 % ) yang dijadikan sebagai private ownership baik dalam bentuk kepemilikan pribadi, lembaga/organisasi ataupun masyarakat lokal.

            Berdasarkan data FAO 2010, sebesar 91 % dari luas lahan hutan yang ada yang bisa dikelola di Indonesia memiliki pola kepemilikan public ownership dan sebesar 57 % dari luas hutan public tersebut dikelola oleh perusahaan swasta ataupun lembaga/ badan usaha. Sedangkan di China hutan sebagai public ownership dan private ownership memiliki persentase yang hampir berimbang. Di Jepang dan Korea sebesar 59 % dan 69 % dari luas hutan yang ada merupkan private ownership.

            Pola kepemilikan lahan hutan di USA, sebesar 57 % merupakan private ownership dan 43 % adalah public ownership. Sebaliknya di Kanada 92 % merupakan public ownership dan hanya 8 % yang menjadi privat ownership. Namun persamaannya adalah seluruh hutan yang memiliki pola public ownership dikelola dan diberi hak manejemen melalui public administration dan tidak ada. Pada gambar 2 berikut ini dijelas persentase pola kepemilikan lahan hutan pada beberapa negara yang diolah dari FRA 2010 yang diterbitkan oleh FAO.

Image

            Gambar 2. Persentase pola kepemilikan lahan hutan di beberapa negara

            Pada sebagian besar Negara maju di Eropa, sebagai contoh di Swedia, berdasarkan data Swedish Forest Agency (2010), persebaran kepemilikan hutan di Swedia bisa sebagian besar merupakan private (individuals) ownership, seperti yang dijelaskan pada gambar 3.

            Menurut Swedish Forest Agency in Skogsindutrierna, The Swedish Forest Industry Facts & Figures 2009, April 2010, di antara semua negara produsen kehutanan terbesar dunia, Swedia adalah yang paling berorientasi ekspor. 85 % produksi pulp & paper dan 70 % produksi sawn timber mereka dilempar ke pasar ekspor terutama ke kawasan Eropa. Hanya 25% ekspor pulp & paper dan 35% ekspor sawn timber Swedia yang keluar dari Eropa. Yang patut dikagumi adalah Swedia hanya memiliki lahan hutan sekitar 1 % dari total luas hutan dunia (sekitar 39.5 juta hektar) namun menghasilkan 6% volume produksi sawn timber dunia, 3% produksi kertas dunia dan 6% produksi pulp dunia. Industri kehutanan Swedia termasuk efisien dan produktif. Karena jika dilihat lebih jauh, hanya sekitar 39%total lahan hutan di Swedia yang dimiliki dan dikelola secara intensif oleh perusahaan (25% swasta dan 14% BUMN).

 

 Image

  Gambar 3. Persebaran Kepemilikan Hutan di Swedia

            Trend luas hutan di dunia cenderung menurun karena salah satunya dipengaruhi oleh pola kepemilikan hutan yang menjadi public ownership dan hak pengelolaannya pada beberapa negara lebih banyak diserahkan pada badan usaha. Perbaikan tata kelola hutan di negara- negara berkembang dan pemilik hutan terluas seperti Indonesia merupakan salah satu jalan guna menekan trend penurunan luas hutan dunia.

            Berdasarkan perhitungan tahun 2010, luas hutan di bumi adalah sebesar 3,9 milyar ha dengan laju kehilangan hutan alam sebesar 13 juta ha. Dua hipotesis yang dapat dibangun dalam hal ini adalah : a) Suatu tindakan proteksi dan konservasi yang ketat diperlukan untuk mempertahankan keberadaan sisa hutan yang ada, dan b) Suatu tindakan pengelolaan yang lestari untuk memacu pertambahan jumlah hutan di bumi.

 

III. SIMPULAN

            Trend luas hutan di dunia yang cenderung menurun dari tahun ke tahun disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya dipengaruhi oleh pola kepemilikan hutan yang lebih banyak menjadi public ownership dan hak pengelolaannya pada beberapa negara lebih banyak diserahkan pada badan usaha. Pengelolaan hutan yang dijadikan private ownership lebih menjamin dalam hal proteksi dan pengelolaan yang lestari karena kemungkinan adanya rasa memiliki terhadap hutan cukup tinggi. Hipotesis tentang proteksi dan pengelolaan ini setidaknya dapat diwujudkan secara bijak dan seiimbang apabila kita dapat memahami secara komprehensif tentang fungsi-fungsi esensial dari hutan dan perbaikan dalam tata kelola hutan.

 

IV. DAFTAR PUSTAKA

Gardner, T. and  R. Engelman. 1999. Forest Future : Population,Consumption and Wood Resources. Population Action International, Washington D.C.

FAO. 2010. Global Forest Resource Assesment 2010. Main Report. FAO, Rome http://www.fao.org/forestry/fra/fra2010/en/ diakses tanggal 1 April 2013

Suryanto. 2012. Hutan Sebagai Sumberdaya Dunia. Info Teknis Dipterokarpa Vol.6 No.1, September 2012 : 59-75

http://blog.cifor.org/11333/menentukan-deforestasi-dan-deforestasi-sebagai-penentu/#.UWNhpqLBOC0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Definisi Hutan menurut FAO :

Suatu kawasan dengan luas minimal 0,5 hektar yang berisi tegakan pohon dengan tinggi minimal 5 meter dan memiliki penutupan tajuk minimal 10 persen, atau kumpulan pohon-pohon yang dapat mencapai ambang batas tersebut.

Suatu kawasan dapat didefinisikan sebagai hutan, jika :

–        Areal penanaman yang belum mencapai tinggi minimal 5 meter dan penutupan tajuk 10%, namun nantinya diduga dapat mencapai ambang tersebut.

–        Hutan bambu dan palem yang memiliki tinggi minimal 5 meter dan penutupan tajuk 10%.

–        Jalan-jalan hutan, sekat bakar dan areal terbuka lainnya yang relatif kecil dalam suatu kawasan hutan.

–        Taman Nasional, kawasan konservasi atau kawasan yang dilindungi lainnya untuk tujuan khusus pendidikan, sejarah, budaya atau spiritual keagamaan

–        Sekat atau tanaman penghalang angin yang luasnya lebih dari 0,5 ha dan lebar lebih dari 20 meter.

–        Areal Reboisasi yang diperuntukkan untuk hutan atau tujuan perlindungan lainnya.

–        Areal dengan tanaman perkebunan (misalnya karet), tapi ditujukan untuk perlindungan atau produksi kayunya

Suatu kawasan tidak dapat didefinisikan sebagai hutan, jika :

–        Tegakan pohon untuk tujuan pertanian (perkebunan), seperti perkebunan

–        buah atau agroforestry.

–        Taman Kota atau Hutan Kota

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s