SURVEY BEKANTAN Nasalis larvatus in Sebangau National Park

Khulfi M. Khalwani, S.Hut

Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) dikenal juga dengan sebutan monyet belanda, bekara atau warek belanda. Satwa ini merupakan salah satu primata endemik Kalimantan yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Perlindung- an Hutan dan Konservasi Alam No. 5 tahun 1990 serta Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 301/Kpts-II/1991. Secara internasional bekantan termasuk dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix I, yaitu satwa yang secara internasional tidak boleh diperdagangkan (Soehartono dan Mardiastuti, 2003) dan termasuk dalam daftar Red Book of Endengered Species IUCN (International Union for the Conserva- tion of Nature and Nature Resources) sebagai satwa dengan populasi tertekan (Bismark 1995). Perlindungan terhadap populasi orangutan menempati posisi penting dalam manajemen hutan yang berkelanjutan (sustainable forest management) (Wich et al. 2011). Kawasan konservasi sebagai habitat alami bekantan, seringkali masih belum mampu melindungi populasi bekantan yang ada, kekeliruan pengalokasian dan deliniasi zona inti serta zona rimba yang diperuntukkan bagi pelestarian orangutan (Santosa & Sari 2010). Data akurat mengenai parameter demografi (ukuran populasi, dan nisbah kelamin) serta peubah-peubah ekologi penting habitat yang disukai oleh bekantan pada dasarnya merupakan jawaban kunci atas permasalahan dalam manajemen kawasan dimaksud (Mathewson et al. 2008; Husson et al. 2009; Santosa & Gun awan 2010).

Habitat bekantan sangat terbatas pada tipe hutan rawa gambut, bakau dan sangat tergantung pada sungai, walaupun sebagian kecil ada yang hidup di hutan Dipterocarpaceae dan hutan kerangas di tepi sungai (Saltar et al. 1985 dalam Bismark 1995). Luas habitat bekantan diperkirakan 29.500 km2. Dari luas tersebut, 40% di antaranya sudah berubah fungsi dan hanya 4,1% saja yang ada di kawasan konservasi (McNeely 1990 dalam Bismark 1995). Menurut Yasuma (1994), sebaran bekantan di Kalimantan Timur saja meliputi daerah aliran Sungai Mahakam hingga daerah pesisir Balikpapan, yaitu di daerah Tenggarong, Sanga-Sanga, Delta Mahakam, Samboja, Sepaku, dan Balikpapan.

Beberapa metode inventarisasi telah diujicobakan untuk mengetahui parameter demografi populasi bekantan, baik yang dilakukan melalui berjalan dalam transek sepanjang hutan atau di sepanjang sungai dengan menggunakan perahu. Berdasarkan pengetahuan bio-ekologi terutama aspek perilaku spesies ini, banyak ahli memanfaatkan pola aktivitas (perilaku) bekantan yang kerap ditemukan disepanjang sungai di pagi dan sore hari untuk tujuan pemantauan populasi bekantan. Teknik inventarisasi dan monitoring terkonsentrasi dengan menyusuri sungai menggunakan perahu dan memusatkan perhatian pada vegetasi disepanjang sungai yang digunakan dalam aktivitas makan dan beristirahat oleh bekantan merupakan metode yang umum digunakan dalam inventarisasi populasi bekantan.

Bekantan merupakan satwa arboreal namun kadang-kadang sering ditemui di atas tanah, pergerakan dari dahan ke dahan yang dilakukan dengan berbagai cara, misalnya melompat, bergantung atau bergerak dengan keempat anggota tubuhnya. Yasuma dan Alikodra (1990) menyatakan bahwa bekantan dapat melintasi sungai atau berjalan melintaasi areal terbuka untuk mencapai bidang-bidang hutan yang terpisah-pisah, aktivitas harian bekantan dimulai pada pagi hari sekitar pukul 05.30 (Bismark 1994) aktivitas hariannya dimulai dengan aktivitas makan ataupun bergerak, selama satu jam berikutnya kegiatan masih berpusat disekitar pohon tempat tidur di pinggir sungai, setelah itu dilanjutkan dengan berjalan ke hutan rawa dan teus masuk ke dalam hutan. Pada sore hari aktivitasnya akan berakhir pada saat mulai memasuki waktu tidur, yaitu sekitar pukul 19.00 (Bismark 1980). Menurut Alikodra et al. (1990) bekantan akan mulai aktivitas makannya setelah bangun dan umumnya dilakukan di pohon tidur atau sekitarnya. Sedangkan menurut ismark (1996) bekantan akan tetap berada pada pohon tidurnya hingga pukul 06.00 dengan melakukan aktivitas makan kemudian melakukan perjalanan untuk mencari tempat makan tertentu. Pergerakan setiap harinya dapat mencapai 1,5 Km lebih, sedangkan luas daerah jelajah bekantan cukup luas berkisar anatara 50-270 ha, tergantung dari banyak sedikitnya anggota kelompok. Umumnya bekantan akan tidur dengan memilih pohon yang tumbuh di tepi sungai, anggota kelompok akan bergabung dalam satu pohon atau pohon lain yang berdekatan. Bekantan hidup berkelompok, setiap kelompoknya dapat mencapai 25 individu atau lebih. Menurut Bismark (1984) menyatakan jumlah rata-rata bekantan per kelompok sebesar 25 individu. Kelompok yang dibentuk dapat dibedakan menjadi dua tipe, yang pertama adalah tipe kelompok yang dipimpin oleh satu jantan dominan dengan beberapa betina dan anak-anaknya, serta jantan-jantan muda yang disebut single male sebagai anggotanya. Tipe kedua adalah kelompok yang hanya terdiri dari jantan dan umumnya merupakan jantan-jantan muda atau disebut multi male. Pada saat aktivitas mencari makan kelompok besar terpisah menjadi beberapa kelompok kecil dan berkumpul kembali saat menjelang petang.

Pengambilan data populasi bekantan dilakukan dengan menyusuri sungai dari hulu ke hilir atau sebaliknya menggunakan perahu/sampan secara perlahan. Informasi yang dikumpulkan meliputi : 1) jumlah individu dan kelompok bekantan yang ditemukan, 2) struktur umur, nisbah kelamin, 3) jarak tegak lurus ditemukannya populasi bekantan dengan pengamat(W), 4) letak/posisi dijumpainya populasi bekantan, 5) pohon tidur (jenis, tinggi total pohon tidur, diameter, posisi ketinggian individu dari permukaan tanah), 6) vegetasi (plot contoh ditemukannya populasi bekantan), dan 7) jenis pohon pakan.

Kegiatan survey populasi bekantan hendaknya diawali dengan kegiatan survey pendahuluan (umumnya ± 1-2 minggu) sebagai bagian dari upaya habituasi terhadap populasi bekantan yang ada disepanjang sungai, selain itu pun hal ini penting sebagai bagian dari kegiatan orientasi lapang untuk mengetahui secara cepat lokasi tempat konsentrasi bekantan sehingga dapat dijadikan sebagai titik pengamatan. Setelah itu dilakukan pengenalan dan penandaan setiap kelompok agar tidak terjadi double counting. Pengumpulan data demografi populasi dilakukan langsung dari hulu ke hilir lalu dilakukan sebaliknya menggunakan perahu/sampan dengan metode konsentrasi sebagai bentuk ulangan untuk meningkatkan presisi dan akurasi hasil pengamatan. Selain itu dilakukan pula pengambilan data vegetasiuntuk mengetahui kondisi habitatnya. Selanjutnya dilakukan pemetaan setiap kelompok untuk mengetahui penyebarannya. Untuk memperoleh data jumlah individu, jumlah kelompok, struktur umur, dan nisbah kelamin dilakukan secara berulang sehingga jumlah individu yang tercatat dalam setiap kelompok bekantan mencapai jumlah tertinggi, dimana setiap kelompok bekantan diamati selama ± 20 menit. Pengamatan dilakukan dalam 2 term, yaitu di pagi hari (pukul 06.00-09.00) dan sore hari (pukul 15.00-18.30), hal ini dikarenakan bekantan lebih aktif pada waktu pagi dan sore hari. Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan sehingga dapat diketahui kondisi habitat ditemukannya populasi bekantan. Metode yang digunakan dalam inventarisasi vegetasi adalah metode garis berpetak disepanjang sungai dimana ditemukannya populasi bekantan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s