Ilmu Tanah Hutan

Gan berikut ane share beberapa jenis tanah di hutan tropika,, siapa tahu bisa menambah wawasan kita semua gan… Karena perlu kita sadari… beda tanah berarti beda lokasi tumbuh dan tentunya beda perlakuan juga untuk pengelolaannya…

1. Tanah Entisol :
Pengertian : Pengertian Entisol adalah tanah-tanah dengan regolit dalam atau bumi tidak dengan horison, kecuali mungkin lapis bajak. Beberapa Entisol, meskipun begitu mempunyai horison plaggen, agrik atau horizon E (albik); beberapa mempunyai batuan beku yang keras dekat permukaan Entisol dicirikan oleh bahan mineral tanah yang belum membentuk horison pedogenik yang nyata. Mereka dicirikan oleh kenampakan yang kurang muda dan tanpa horison genetik alamiah, atau juga mereka hanya mempunyai horison-horison permulaan.
Pembentukan : Terjadi di daerah dengan bahan induk dari pengendapan material baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat dibandingkan dengan laju pembentukan tanah, dengan vegetasi daerah sungai dan pantai, seperti daerah bukit pasir, daerah dengan kemiringan lahan yang curam, dan daerah dataran banjir. Pertanian yang dikembangkan di tanah ini umumnya adalah padi sawah secara monokultur atau digilir dengan sayuran/palawija. Tanah entisol banyak terdapat di daerah alluvial atau endapan sungai dan endapan rawa-rawa pantai, oleh sebab itu tanah ini sering disebut tanah alluvial. Umur tanah ini masih tergolong muda.
Sifat dan karakteristik : Tanah entisol cenderung memiliki tekstur yang kasar dengan kadar organik dan nitrogen rendah, tanah ini mudah teroksidasi dengan udara, untuk tanah entisol, kelembapan dan pH nya selalu berubah, hal ini karena tanah entisol selalu basah dan terendam dalam cekungan. Dan tanah yang memiliki kadar asam yang kurang baik untuk ditanami, karena memiliki kadar asam yang sangat tinggi atau sangat rendah.
Pengelolaan : Tanah entisol dapat digunakan apabila dikembangkan metode baru, misalnya sistem drainase untuk mengairi tanah ketika kadar asamnya mulai rendah, dapat ditambah dengan pemupukan dengan hasil yang optimal. Pada tanah entisol tidak terdapat hewan-hewan seperti cacing, karena keadaanya yang kurang subur, dan komposisi mineralnya adalah terdapatnya mineral kuarsa dan oksida besi.

2. Inceptisol

Pengertian : Inceptisol adalah tanah yang belum matang (immature) yang perkembangan profil yang lebih lemah dibanding dengan tanah matang dan masih banyak menyerupai sifat bahan induknya (Hardjowigeno,1993). tanah yang dapat memiliki epipedon okhrik dan horison albik seperti yang dimiliki tanah entisol juga yang menpunyai beberapa sifat penciri lain ( misalnya horison kambik) tetapi belum memenuhi syarat bagi ordo tanah yang lain.
Pembentukan : Terbentuk dari tanah alluvial, banyak terdapat di lembah-lembah atau jalur aliran sungai atau daerah pantai, dengan vegetasi daerah sungai dan pantai, banyak dijumpai di kalimantan, papua, dan maluku, tanah ini usianya masih muda dan tarmasuk tanah mineral. Tanah yang menyebar mulai di lingkungan iklim semiarid (agak kering) sampai iklim lembap. Memiliki tingkat pelapukan dan perkembangan tanah yang tergolong sedang Umumnya tanah ini bekembang dari formasi geologi tuff volkan, namun ada juga sebagian yang terbentuk dari batuan sedimen seperti batu pasir (sandstone), batu lanau (siltstone), atau batu liat (claystone).
Sifat dan karakteristik : Inceptisol mempunyai karakteristik dari kombinasi sifat – sifat tersedianya air untuk tanaman lebih dari setengah tahun atau lebih dari 3 bulan berturut – turut dalam musim – musim kemarau, satu atau lebih horison pedogenik dengan sedikit akumulasi bahan selain karbonat atau silikat amorf, tekstur lebih halus dari pasir geluhan dengan beberapa mineral lapuk dan kemampuan manahan kation fraksi lempung ke dalam tanah tidak dapat di ukur. Kisaran kadar C organik dan Kpk dalam tanah inceptisol sangat lebar dan demikian juga kejenuhan basa. Inceptisol dapat terbentuk hampir di semua tempat kecuali daerah kering mulai dari kutup sampai tropika. (Darmawijaya, 1990). Tanah inceptisol memiliki kadar alumunium dan kadar zat besinya tinggi. Keasaman yang terkandung pada tanah ini adalah 5-7 dengan tingkat kejenuhan 72 %, oleh karena itu tanah ini memiliki tingkat keasaman sedang. Karakteristik tanah inceptisol adalah sebagai berikut :
• Memiliki solum tanah agak tebal yaitu 1-2 meter
• Warnanya hitam atau kelabu sampai coklta tua
• Teksturnya debu, lempung debu, bahkan lempung
• Tekstur tanahnya gempur, memiliki ph 5-7
• Memiliki bahan organik yang tinggi yaitu 10%-30%
• Memiliki unsur hara yang sedang sampai tinggi
• Produktivitas tanah sedang sampai tinggi.

Pengelolaan : Pemanfaatannya pun oleh manusia bervariasi sangat luas pula, mulai untuk bercocok tanam hortikultura tanaman pangan, sampai dikembangkan sebagai lahan-lahan perkebunan besar seperti sawit, kakao, kopi, dan lain sebagainya, bahkan pada daerah-daerah yang eksotis, dikembangkan pula untuk agrowisata. Tanah inceptisol merupakan tanah yang masih berupa bahan induk yang belum matang, terdapat di lereng yang curam dan hutan dengan sedikit menggunakan sistem drainase agar tanah dapat diolah untuk pertanian.

3. Alfisol

Pengertian : Tanah Alfisol adalah tanah yang berkembang di daerah hutan humid, di mana perpindahan lempung menghasilkan horizon Bt, yang mengandung 20% atau lebih daripada horizon A, dan tanahnya cukup mengalami pencucian dalam pelapukan. Akumulasi liat dalam horizon organic b (Bt) dapat menyebabkan kapasitas tukar kation horizon B maksimum pada sejumlah tanah. Reaksi tanah bervariasi antara masam hingga netral (Foth, 1998). Alfisol dicirikan oleh horizon elluviasi dan illuviasi yang jelas.
Pembentukan : Tanah ini terbentuk dari proses-proses pelapukan, serta telah mengalami pencucian mineral liat dan unsur-unsur lainnya dari bagian lapisan permukaan ke bagian subsoilnya (lapisan tanah bagian bawah), yang merupakan bagian yang menyuplai air dan unsur hara untuk tanaman. menyebar di daerah-daerah semiarid (beriklim kering sedang) sampai daerah tropis (lembap Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama di tempat-tempa dengan tingkat pelapukan sedang (Hardjowigeno, 1993). Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit. Proses pembentukan Alfisol di Iowa memerlukan waktu 5000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik. Alfisol terbentuk di bawah tegakan hutan berdaun lebar (Hardjowigeno, 1993). Tanah Alfisol adalah tanah yang berkembang di daerah hutan humid, di mana perpindahan lempung menghasilkan horizon Bt, yang mengandung 20% atau lebih daripada horizon A, dan tanahnya cukup mengalami pencucian dalam pelapukan. Akumulasi liat dalam horizon organic b (Bt) dapat menyebabkan kapasitas tukar kation horizon B maksimum pada sejumlah tanah. Reaksi tanah bervariasi antara masam hingga netral (Foth, 1998).
Sifat dan karakteristik : Pada tanah Alfisol, pH tanah rendah yaitu 30%) dan berbukit (kelerengan 15−30%), dengan luas masing-masing 51,30 juta ha dan 36,90 juta ha. Lahan kering berlereng curam sangat peka terhadap erosi. Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit.
Sifat dan karakteristik : Tanah ini juga didominasi oleh mineral liat kaolinit dan oksida-oksida besi dan alumunium tinggi. Dapat dicirikan dengan oleh tingkat kemasaman yang tinggi, level unsur-unsur Ca, K dan Mg rendah, Defisiensi unsur N, P, K, Ca dan Mg umum dijumpai di lapang, kadar lengas dan kapasitas simpan lengas tanah rendah dan rentan terhadap erosi. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah, yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Tanah ini juga didominasi oleh mineral liat kaolinit dan oksida-oksida besi dan alumunium tinggi. Tanah ini menunjukkan batas-batas horison yang tidak jelas. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning), Lateritik, atau Podzolik Merah Kuning. Horison oksisol mempunyai :
• Ketebalan 30cm atau lebih
• Kapasitas tukar kation 16 miliekivalen atau kurang untuk masing-masing 100 gr liat.
• Tidak ada atau hanya sedikit mineral trace yang dapat menahan untuk melepaskan basa
• Terdapat sedikit, jika setiap liat dapat menghamburkan air
• Batas difusi dan horison berbatasan

Pengelolaan : Sifat/karakteristik seperti dimiliki oleh tanah-tanah yang didominasi Oksisol, menyebabkan produktivitas atau kesuburan tanahnya rendah , sehingga menjadi kendala dalam pengembangannya. Selain mempunyai tingkat kesuburan rendah, umumnya lahan kering memiliki kelerengan curam, Lahan kering berlereng curam sangat peka terhadap erosi, terutama apabila diusahakan untuk tanaman pangan semusim. Keterbatasan air pada lahan kering juga mengakibatkan usaha tani tidak dapat dilakukan sepanjang tahun.Ditinjau dari segi luasannya, potensi lahan kering tergolong tinggi dan masih perlu mendapat perhatian yang lebih bagi pengembangannya, namun apabila ditinjau dari sifat/ karakteristik lahan kering seperti diuraikan tersebut di atas, sangat menjadi kendala dalam pengembangannya. Reaksi jenis tanah ini adalah masam, kandungan Al yang tinggi, unsur hara rendah, sehingga diperlukan pengapuran dan pemupukan serta pengelolaan yang baik agar tanah dapat menjadi produktif dan tidak rusak. Oxisol meliputi sekitar 8% dari daratan dunia. Adapun di Indonesia, banyak dijumpai di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Oksisol mempunyai agregrat tanah yang stabil, dan tanah sangat tahan terhadap erosi. Pengapuran, pemupukan, irigasi, dan upaya pengelolaan lainya telah membuat beberapa oxisol termasuk tanah yang sangat produktif.

6. Histosol

Pengertian : Merupakan tanah yang mengandung bahan organik tinggi dan tidak mengalami permafrost, yang berkembang dimana tanah jenuh terus-menerus. Ciri histosol tergantung pada vegetasi alami yang ditimbun di dalam air dan tingkat perombakan.
Pembentukan : Terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan, sampah hutan, atau lumut yang cepat membusuk yang terdekomposisi dan terendapkan dalam air. Kebanyakan selalu dalam keadaan tergenang sepanjang tahun, atau telah didrainase oleh manusia. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organic dan gambut. Proses Pembentukan Tanah gambut terbentuk karena laju akumulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk (Chotimah, 2002). Histosol mempunyai kadar bahan organic sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air. Tanah histosol biasa terbentuk di daerah rawa atau di dataran rendah yang tergenang air, dan mengandung banyak bahan organik, dengan relief agak darat atau bukan di daerah yang curam, tanah histosol terbentuk pada iklim tropis hingga panas.
Sifat dan karakteristik : Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence). Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut. Tanah gambut di Indonesia pada umunya mempunyai reaksi kemasaman tanah (pH) yang rendah, yaitu antara 3,0 – 5,0 (Hardjowigeno, 1996). Tanah gambut memiliki berat isi yang rendah berkisar antara 0,05 – 0,25 gcm-3, semakin lemah tingkat dekomposisinya semakin rendah berat isi (BD), sehingga daya topang terhadap bebadan diatasnya seperpti tanmana, banguanan irigasi, jalan, dan mesin-mesin pertanian adalah rendah. Gambut yang sudah direklamasi akan lebih padat dengan berat isi antara 0,1 – 0,4 gcm-3 (Subagyono et al., 1997). Porositas tanah tinggi, penyusutan volume tanah gambut (irreversible) sehingga mudah terbakar, dan apabila tergenang akan mengembang dan hanyut terbawa arus. Menurut Subagjo (2002). Karena terbentuk dalam air tanah histosol jarang dijumpai hewan, namun lebih banyak berupa serat-serat tanaman yang berasal dari tanaman yang sudah hancur.
Pengelolaan : Di Amerika serikat bagian utara, tanah-tanah ini digunakan untuk memproduksi bawang, sledri, “mint”, kentang, kubis, “cranberris”, wortel dan tanaman ubi-ubian lainnya. Akhir musim semi adalah ancaman terbesar pada pertumbuhan tanaman di daerah sedang. Ancaman lain adalah kebakaran dan erosi angin, metode khusus dalam pengerjaan tanah bersama dengan pemberian pupuk dengan hati-hati diperlukan untuk menaikan produktivitas tertinggi tanah.

7. Mollisol

Pengertian : Mollisols adalah bagian tanah di taksonomi tanah USDA. Mollisols ada di daerah semi-kering untuk wilayah semi-lembab, biasanya di bawah penutup padang rumput. Dengan beberapa daerah padang pasir adalah area bercurah hujan tinggi yang mendukung rumput cenderung menutupi tanah dengan sempurna dan menghasilkan bahan organik.
Pembentukan : Paling sering ditemukan dalam-lintang pertengahan, yaitu di Amerika Utara, sebagian besar di sebelah timur Pegunungan Rocky, di Amerika Selatan di Argentina (Pampas) dan Brazil, dan di Asia di Mongolia dan Rusia Padang. bahan induk mereka biasanya dasar-kaya dan gampingan dan mencakup batu gamping, loess, atau pasir tertiup angin. Utama proses yang mengarah pada pembentukan Mollisols padang rumput yang melanisation, dekomposisi, humification dan pedoturbation. Terbentuk pada daerah gurun pasir dengan curah hujan yang tinggi, namun tetap di batasi, karena menghindari pencucian yang berlebihan dan kejenuhan basa tetap tinggi. Mollisols terjadi pada savana dan lembah-lembah pegunungan (seperti Asia Tengah, atau Amerika Utara Great Plains).
Sifat dan karakteristik : Mollisols telah mendalam, bahan organik tinggi, diperkaya gizi-permukaan tanah (horizon A), biasanya antara 60-80 cm. Permukaan horison ini subur, dikenal sebagai epipedon mollic, adalah fitur diagnostik mendefinisikan Mollisols. Sangat dipengaruhi oleh kebakaran dan pedoturbation berlimpah dari organisme seperti semut dan cacing bumi. epipedons Mollic hasil dari penambahan jangka panjang dari bahan organik berasal dari akar tanaman, dan biasanya memiliki lembut, butiran, struktur tanah. Gambaran horison mollik :
• Lembut bila kering
• Berwarna gelap dan paling sedikit bahan organiKNya 1%
• Kejenuhan basa 50% atau lebih (diukur pada pH 7)

Pengelolaan : lahan perawan di uni soviet di buka pada tahun 1954. Pada waktu itu area tersebut dicirikan oleh tanah yang subur, baik untuk tanaman dan kepadatan penduduk rendah. Pertanian lahan kering dilaksanakan secara sekstensif untuk memproduksi gandum. Irigasi digunakan, terutama sepanjang lembah sungai, berbagau varietas tanaman seperti buah-buahan, sayuran dan bit gula.

8. Andisol

Pengertian : Tanah andisol, atau sering disebut tanah andosol adalah tanah yang dianggap paling subur karena berasal dari hasil gunung api.
Pembentukan : Tanah yang pembentukannya melalui proses-proses pelapukan yang menghasilkan mineral-mineral dengan struktur kristal yang cukup rapih. Mineral-mineral ini mengakibatkan Andisol memiliki daya pegang terhadap unsur hara dan air yang tinggi. Tanah ini umumnya dijumpai di daerah-daerah yang dingin (pada ketinggian di atas 1000 m dpl) dengan tingkat curah hujan yang sedang sampai tinggi, terutama daerah-daerah yang ada hubungannyadengan material volkanik. Dengan iklim yang sejuk, dan biasanya terdapat vegetrasi dataran tinggi seperti cemara atau pinus, dan memiliki relief yang terjal hingga agak datar, umur tanah andisol cenderung muda karena hasil dai kegiatan vulkanik.
Sifat dan karakteristik : Tekstur tanah jenis andisol atau andosol sangat beragam, tanah ini bisa berbentik tanah liat dan tanah lempung yang teksturnya kasar. Zat yang terkandung di dalamnya sebagian besar adalah abu vulkanik dari letusan gunung. Tanah jenis ini di jumpai di daerah sekitar gunung api, tanah andisol juga mengandung banyak zat organik yang terdapat pada lapisan tengah dan atas, sedangkan pada bagian bawah kandungan unsur haranya cenderung sedikit.
Pengelolaan : Andisol cenderung menjadi tanah yang cukup produktif, terutama setelah diberi masukan amelioran (seperti pupuk anorganik). Andisol seringkali dimanfaatkan orang untuk pengembangan pertanian tanaman pangan dan sayur-sayuran atau bunga-bungaan (seperti di daerah Lembang Kabupaten Bandung). Tanah andosol atau ada yang menyebut tanah vulkanik mengandung unsur hara yang cukup tinggi. Unsur hara tersebut berasal dari letusan gunung api, sehingga tanah sangat baik untuk ditanami.

9. Vertisol

Pengertian : Dalam kedua FAO dan taksonomi tanah Amerika Serikat, Vertisol adalah tanah di mana ada kandungan tinggi dari tanah ekspansif dikenal sebagai montmorilonit yang terbentuk retakan dalam di musim kering atau tahunan.
Pembentukan : terbuat dari bahan yang dari dasar ke permukaan sering menimbulkan microrelief dikenal sebagai gilgai. Vertisols biasanya terbentuk dari batuan yang sangat dasar seperti basalt di iklim yang lembab musiman atau tidak menentu kekeringan dan banjir, atau untuk drainase terhambat. Tergantung pada bahan induk dan iklim, mereka dapat berkisar dari abu-abu atau merah untuk yang lebih dikenal dalam hitam (dikenal sebagai bumi hitam di Australia, dan tanah kapas hitam di Afrika Timur). Vertisols yang ditemukan antara 50 ° N dan 45 ° S khatulistiwa. area utama di mana vertisols yang dominan adalah timur Australia (khususnya pedalaman Queensland dan New South Wales), Dataran Tinggi Deccan India, dan bagian selatan Sudan, Ethiopia, Kenya, dan Chad (yang Gezira), dan Sungai Parana rendah di Amerika Selatan . daerah-daerah lain dimana vertisols yang dominan termasuk Texas selatan dan Meksiko yang berdekatan, timur laut Nigeria, Thrace, dan bagian dari Cina timur. Vegetasi alami vertisols adalah padang rumput, savana, atau hutan berumput.
Sifat dan karakteristik : Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
Pengelolaan : Perilaku tekstur dan tidak stabil berat tanah membuat sulit bagi banyak jenis pohon tumbuh, dan hutan jarang terjadi. Ketika irigasi tersedia, tanaman seperti kapas, sorgum gandum, dan beras dapat ditanam. Vertisols sangat cocok untuk padi karena mereka hampir kedap saat jenuh. pertanian tadah hujan sangat sulit karena vertisols dapat bekerja hanya dalam jarak yang sangat sempit kondisi kelembaban: mereka sangat keras ketika kering dan sangat lengket bila basah. Namun, di Australia, vertisols sangat dihargai, karena mereka termasuk beberapa tanah yang tidak kekurangan fosfor . Beberapa, yang dikenal sebagai vertisols keras, memiliki kerak, tipis keras saat kering yang dapat bertahan selama 2 sampai 3 tahun sebelum mereka telah hancur cukup untuk memungkinkan penyemaian.

3 thoughts on “Ilmu Tanah Hutan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s