Cari

Khulfi's Blog

If life is a journey …

INDEKS KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP

Pemahaman akan kualitas lingkungan hidup penting dipahami guna mendorong semua pemangku kepentingan (stakeholder) melakukan aksi nyata dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkepentingan guna  mempermudah masyarakat awam dan para pengambil keputusan mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah untuk memahami kualitas lingkungan hidup Indonesia. Oleh karenanya, KLHK mengembangkan suatu indeks lingkungan berbasis provinsi sejak 2009 yang memberikan kesimpulan cepat dari suatu kondisi lingkungan hidup pada periode tertentu. Indeks ini diterjemahkan dalam angka yang menerangkan apakah kualitas lingkungan berada pada kondisi baik, atau sebaliknya.

Dalam fungsinya sebagai pendukung kebijakan, indeks dapat membantu dalam penentuan skala prioritas yang disesuaikan dengan derajat permasalahan lingkungan sebagaimana diindikasikan oleh angka indeks kualitas lingkungan hidup. Indeks kualitas lingkungan hidup juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi sumber permasalahan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Studi-studi tentang kualitas lingkungan berbasis indeks sudah banyak dilakukan oleh perguruan tinggi di luar negeri, seperti Columbia University yang menghasilkan Environmental Sustainability Index (ESI) dan Virginia Commonwealth University yang menghasilkan Environmental Quality Index (EQI). Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengembangkan Indeks Kualitas Lingkungan (IKL) untuk 30 ibukota provinsi sejak 2007. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bekerja sama dengan
Dannish International Development Agency (DANIDA) juga mulai mengembangkan indeks lingkungan berbasis provinsi yang pada dasarnya merupakan modifikasi dari Environmental Performance Index (EPI) pada tahun 2009. EPI sendiri merupakan studi yang dipublikasikan oleh Yale University dan Columbia University yang berkolaborasi dengan World Economic Forum dan Joint Research Center of the European Commission pada tahun 2008.

Sesuai dengan Rancangan RPJMN bahwa kebijakan pengelolaan kualitas lingkungan hidup
diarahkan pada peningkatan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup yang mencerminkan kondisi kualitas air, udara dan lahan, yang diperkuat dengan peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan dan penegakan hukum lingkungan.

Sasaran Pokok Pembangunan Nasional RPJMN 2015-2019 Bidang Lingkungan Hidup :

1. Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca :  dari 15,5%  (baseline tahun 2014) menjadi  26,0% pada tahun 2019
2. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup : dari nilai 63,0 – 64,0 (baseline tahun 2014) menjadi 66,5 – 68,5 pada tahun 2019
3. Penambahan luas Rehabilitasi Hutan dari 2 juta ha pada tahun 2014 bertambah seluas 750 ribu ha sampai tahun 2019.

toraja
Indonesia Cantik : Tana Toraja

Peacock & Bull on Ujungkulon

banteng dan merak
Japanese tourist and local guide are watching for Peacock and the Wild Ox of Java on Ujungkulon National Park

Berkunjung ke cidaon – berseberangan dengan pulau peucang di Taman Nasional Ujung Kulon anda akan bisa mengamati secara langsung kehidupan banteng liar dan merak di savana ^^

 

forest seed sower it was called orangutan

Sang penabur benih hutan itu kami sebut Orangutan

Photo : Khulfi M Khalwani

pakan 2
Diospyros bornensis, salah satu makanan orangutan di hutan rawa gambut Sebangau
pakan 4
Manggis hutan  Garcinia sp (Photo : Khulfi M Khalwani)
pakan 3
Biji-bijian yang barusaja diludahkan oleh Orangutan setelah daging buahnya dikunyah (Photo : Khulfi M Khalwani)

fruit seeds were recently removed from his mouth after chewing by Orangutan

 

 

 

the impact of forest fires on orangutans

Dampak Kebakaran Hutan Gambut terhadap Orangutan (Pongo pygmaeus)

Photo by : Khulfi M Khalwani (langitborneo@gmail.com)

DSCF4255
Kebakaran hutan mengakibatkan banyak spesies tumbuhan yang menjadi bahan makanan orangutan dan tempat bersarang menjadi berkurang…

Forest fires resulted in many species of plants into food orangutans and nesting places to be reduced

Orangutan adalah primata arboreal. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di pohon.

Orangutans are arboreal primates. They spend most of their lives in trees.

Kebakaran Hutan mengancam kehidupan orangutan untuk jangka panjang.

Forest fires threaten the lives of orangutans for the long term.

DSCF4260
Bekas sarang Orangutan yang tersisa pada area bekas terbakar di Taman Nasional Sebangau (Photo : Khulfi M Khalwani)

Former of orangutan nests remaining in the burnt area in Sebangau National Park.

Kegiatan pencegahan kebakaran hutan harus menjadi prioritas dan disesuaikan dengan akar masalah penyebab kebakaran.

Forest fire prevention activities must be a priority and adapted to the root of the problem causing fire.

sarang5
Salah satu sarang Orangutan kelas A di Taman Nasional Sebangau (Photo : Khulfi M Khalwani)

Peat Forest Fires Impact at the Fisheries Sector

Dampak Kebakaran Hutan Gambut Pada Sektor Perikanan

(Foto : Khulfi M Khalwani)

 

DSCF4527
Pondok nelayan di Sungai Sebangau – Kalimantan Tengah

fishing huts in Sebangau River

DSCF4279

Ikan Kanibal – Ikan Toman = Salah satu jenis ikan yang ada di Rawa Gambut Sebangau

 

One of the fish species in Sebangau Peat Swamp Forest – Central Borneo

a ikan
Salah seorang nelayan yang mengeluhkan semakin menurunnya hasil tangkapan ikan di sungai Sebangau  Kalimantan Tengah

A fisherman who complained about the decline in fish catches in the river Sebangau Central Kalimantan

 

DSCF3425
Wawancara dengan salah satu pengepul ikan dari para Nelayan di Desa Kereng Bengkirai, Palangka Raya, Kalimantan Tengah

Interview with one of the collectors of fish from the fisherman in the village of Kereng Bengkirai, Palangkaraya, Central Kalimantan

DSCF3420
Saat musim kemarau dan terjadi kebakaran banyak nelayan yang tidak bisa mencari ikan. Selain karena hasil  tangkapan yang menurun aksesibilitas juga menjadi sulit

During the dry season and there is a fire many fishermen are not able to find fish. In addition because of declining catches accessibility also be difficult

HAPKA FAHUTAN IPB

Efektivitas Pencegahan Kebakaran Hutan

Oleh : Khulfi M Khalwani 1)

  • Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan.

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada tahun 1997/98 telah dianggap sebagai salah satu bencana lingkungan terburuk sepanjang abad karena dampak kerusakan hutan dan jumlah emisi karbon yang dihasilkan sangatlah besar (Glover dan Jessup 2002). Walau demikian, hingga saat ini kebakaran masih menjadi ancaman terutama saat musim kemarau. Terbukti pada tahun 2015 ini kebakaran hutan dan lahan telah melanda di beberapa provinsi yang menjadi langganan dan bahkan menimbulkan berbagai kerugian ekonomis baik dari kerusakan dan kehilangan nilai biofosik; dampak sosial lintas sektoral akibat perubahan lingkungan; dan munculnya biaya yang ditimbulkan akibat kebakaran seperti biaya pemadaman dan biaya restorasi/rehabilitasi.

Pada tahun 2014 sebenarnya juga terjadi kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, namun secara kuantitas luasnya lebih kecil dibandingkan tahun 2015 dan secara pemberitaan di media massa juga kurang menjadi isu yang menarik karena dikalahkan oleh topik berita Pemilu dan Pilpres. Meskipun sebenarnya dari data yang ada pada bulan September – Oktober 2014 beberapa maskapai penerbangan juga mengalami gangguan akibat dampak asap khususnya di lokasi penelitian yang penulis lakukan di Kalimantan Tengah.

Kebakaran bisa terjadi di dalam kawasan hutan (produksi, lindung, atau konservasi) dan di luar kawasan hutan (lahan milik perusahaan atau masyarakat), baik pada tanah mineral maupun gambut (Saharjo 1997; Page et al 2002; Syaufina 2008). Kebakaran hutan pada tipe tanah gambut jauh lebih sulit dipadamkan karena api dapat menyebar pada vegetasi dan bahan bakar lainnya di atas permukaan serta menjalar di dalam lapisan tanah gambut melalui proses pembaraan (Sumantri 2007). Proses pembaraan (smoldering) ini sulit diketahui penyebarannya secara visual namun besar dampaknya untuk kerusakan selanjutnya (Rein et al 2008).

Lebih dari 90 % penyebab kebakaran hutan dan lahan dipicu oleh aktifitas manusia. Banyak pihak yang dirugikan akibat kebakaran hutan namun banyak juga pihak yang diuntungkan oleh kejadian ini. Tampaknya hal inilah yang membuat kebakaran terus terjadi. Sebagai contoh tidak sedikit dari masyarat umum, termasuk aparat pemerintahan dan anggota Dewan juga memiliki areal lahan yang dibiarkan terbakar untuk selanjutnya dijadikan kebun sawit atau untuk dijual.

Berdasarkan trend data hotspot, dari sisi waktu dapat dilihat sejak tahun 2000 hingga tahun 2015 jumlah hotspot terbanyak terjadi pada bulan Juli – Oktober  di setiap tahun yang berarti potensi kejadian kebakaran hutan terbanyak juga berlangsung pada periode bulan ini. Oleh karena itu upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan seharusnya sudah dapat diantisipasi dan dianggarkan setiap tahunnya khususnya pada bulan Mei dan Juni sebelum memasuki periode puncak hotspot.

Dari sisi status lahan, kebakaran juga lebih banyak terjadi pada lahan milik perusahaan dan masyarakat, meskipun pada beberapa provinsi, kebakaran ekosistem gambut pada hutan negara juga terjadi. Secara statistik kerapatan hotspot tertinggi  ialah pada lokasi-lokasi yang tidak jauh dari akses jalan, sungai dan kanal. Hal ini dapat diartikan faktor aksesibilitas juga mempengaruhi terhadap jumlah hotspot. Program pemerintah Jokowi untuk menambah akses jalan hingga daerah perbatasan melewati kawasan hutan haruslah benar-benar dikawal agar kebakaran tidak terulang.

Dari sisi tren waktu langganan hotpot sudah diketahui. Dari sisi lokasi rawan kebakaran juga sudah diketahui. Lalu mengapa kebakaran ini tetap terjadi ?

Terlepas dari masalah politik bangsa antara dua koalisi besar yang dihubung-hubungkan dengan penyebab kebakaran pada tahun 2015 ini. Kenyataannya kebakaran hutan dan lahan sudah rutin terjadi hampir setiap tahun. Sehingga yang harus diperhatikan kedepannya adalah bagaimana skema pencegahan kebakaran hutan yang efektif baik dari segi  program dan alokasi anggaran maupun dari segi implementasi di lapangan.

Ketidaksingkronan antara penyebab kebakaran dan cara penanggulangannya terjadi di semua negara di dunia. Di Indonesia dan Brazil penyebab utama kebakaran adalah masalah sosial dan politik, namun prioritas rencana dan aksi penanggulangannya adalah teknis dan riset pemadaman kebakaran. Ketidaksingkronan ini ditengarahi melambatkan usaha penanggulangan kebakaran hutan (Carmenta et al 2011).

Kerugian kebakaran sangatlah besar secara ekonomi meliputi Kerusakan sumberdaya alam baik hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu, sektor transportasi, sektor kesehatan dan pendidikan masyarakat, sektor perikanan air tawar (sungai dan rawa gambut) dan ditambah dengan alokasi anggaran yang lebih besar lagi untuk upaya pemadaman kebakaran baik lewat darat maupun udara serta biaya restorasi dan rehabilitasi yang dilakukan. Jika nilai kerugian ekonomi ini dibandingkan dengan anggaran pencegahan kebakaran hutan yang dialokasikan mungkin bisa diibarat membandingkan ukuran buah semangka dengan ukuran bijinya.

Kawasan hutan di Indonesia cukup luas sedangkan SDM yang mengelola pada tingkat tapak bisa dikatakan terbatas, sehingga strategi kegiatan pencegahan kebakaran sebaiknya lebih memperhatikan lagi masalah penyebab kebakaran pada masing-masing lokasi.

Dengan digabungnya Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup seharusnya kedepannya Pemerintah berani menjamin bahwa kebakaran hutan tidak akan terjadi lagi. Srateginya ialah Pemerintah dan Anggota Dewan sebaiknya jangan “pelit” untuk mengalokasikan anggaran pencegahan kebakaran hutan yang mencakup upaya penguatan kapasitas SDM, pelibatan masyarakat, penguatan teknologi, penguatan anggaran siap pakai dan yang paling penting adalah penguatan kelembagaan pada intansi-instansi teknis terkait di tingkat tapak agar kegiatan pencegahan dapat berjalan lebih efektif.

Secara hukum sebaiknya pemerintah berani dengan tegas menidak perusahaan dan kontraktor pelaksana land clearing yang terbukti sengaja membakar dan secara ekonomi anggaran sebaiknya pemerintah juga berani mengalokasikan anggaran untuk memperbanyak kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat di sekitar lokasi rawan kebakaran, baik dalam bentuk penertiban hukum melalui operasi gabungan maupun pemberdayaan melalui bantuan modal (insentif) yang adil dan transparan apabila masyarakat bisa menjamin untuk tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan di daerah sekitar pemukiman mereka.AREA Bekas Terbakar di Bantutung Palangka Raya

PENGEMBANGAN JELUTUNG RAWA Dyera lowii

 
Laju degradasi hutan rawa gambut sepuluh tahun terakhir ini sudah sampai pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Sebagai gambaran pada tahun 2001 total hutan rawa gambut yang masih baik hanya tinggal 10 % dari total luas hutan rawa gambut tahun 1991. Sisanya berupa semak belukar, areal terbuka dan hutan rawa gambut terfragmentasi (Boehm et al. 2003).
 
Eksploitasi hutan melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pembangunan saluran pengairan proyek PLG menyebabkan hutan rawa gambut menjadi lahan terbuka. Pembangunan Saluran Induk Primer (SIP) yang memotong kubah gambut (dome) menyebabkan terjadinya penurunan permukaan gambut (subsidence) dan lapisan gambut menjadi kering tak balik (irreversible drying) yang mempermudah terjadinya kebakaran. Selain itu, pembangunan sistem tata air akan mempercepat habisnya hutan-hutan di pedalaman oleh maraknya penebangan liar (illegal logging) yang memanfaatkan saluran untuk transportasi. 
 
Hal ini mengakibatkan beberapa species tumbuhan komersil menjadi menurunnya jumlah dan kualitas genetik seperti ramin (Gonystyllus bancanus), jelutung (Dyera pollyphylla), kempas (Koompassia malaccensis), ketiau (Ganua motleyana) dan nyatoh (Palaquium cochleria). 
Image
 
 
Pada jaman dahulu Indonesia merupakan penghasil utama getah jelutung, hampir seluruh produksi getah jelutung Indonesia diekspor ke luar negeri dalam bentuk bongkah. Negara tujuan ekspor meliputi Singapura, Jepang dan Hongkong. Getah jelutung berfungsi sebagai bahan baku pembuatan permen karet yang dimulai pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940-an getah jelutung telah menggeser posisi lateks dari pohon Achras sapota, yaitu pohon penghasil bahan baku asli permen karet yang berasal dari Amerika Tengah. Getah jelutung juga digunakan dalam industri perekat, laka, lanolic, vernis, ban, water proofing dan cat serta sebagai bahan isolator dan barang kerajinan. Akan tetapi seiring dengan kerusakan hutan rawa gambut, pohon-pohon jelutung sudah berkurang keberadaanya. 
 
Kondisi ini mengakibatkan pendapatan masyarakat menurun. Kompas (21 Agustus 2001) memberitakan sekitar 400 kepala keluarga di dua desa Sei Hanyo dan Katanjung, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah tersebut selama ini menggantungkan hidupnya dengan menyadap getah jelutung dari hutan kini resah, karena pohon-pohon jelutung yang menjadi sumber mata pencaharian mereka nyaris habis. Ketika pohon jelutung berdiameter 40 cm masih banyak ditemui, setiap minggu, mereka bisa mendapatkan hasil sekitar tiga ton getah jelutung yang harganya Rp 85.000 per kuintal atau Rp 850 per kg. Sekarang masyarakat berhenti total menyadap jelutung karena sudah habis ditebang. Kayu bulat jelutung itu, sebagian besar sudah dijual ke pabrik di Banjarmasin dengan harga kayu jelutung mencapai Rp 1,2 juta per meter kubik. 
 
Lebih lanjut lagi menurut Kompas ( 17 Desember 2005 ) warga pedalaman Kalimantan Tengah saat ini kembali meminati usaha penyadapan getah karet dan jelutung, seiring membaiknya harga komoditas tersebut. Harga getah jelutung di wilayahnya Rp 350.000 per kuintal. Selain kayunya dimanfaatkan untuk bahan bangunan, getah jelutung sebagai bahan baku permen karet. 
Image
 
Didasari semakin menurunnya potensi jelutung baik dari jumlah, maupun kualitas genetik dan berdampak pada menurunnya pendapatan masyarakat, maka diperlukan penelitian teknik budidaya dibarengi dengan pemuliaan jenis ini perlu dilakukan. Disadari, bersama bahwa informasi dan kegiatan-kegiatan penelitian terhadap jenis-jenis hutan rawa gambut ini masih sangat terbatas dan kegiatan pemuliaannya sampai saat ini belum dilakukan, maka diperlukan serangkaian kegiatan yang merupakan langkah strategi pemuliaan jenis-jenis hutan rawa gambut umumnya dan khususnya jenis jelutung.

Album Religi ‘Mengaku’ UNGU terbaru

http://www.youtube.com/watch?v=c74Z-XwTslk 

http://www.youtube.com/watch?v=c74Z-XwTslk

Blog di WordPress.com. | Tema Baskerville.

Atas ↑

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya